wayang-potehi-22

Wayang Potehi: membaca putaran waktu

Han Gagas, ia seorang cerpenis, sastrawan. Hidupnya ia dedikasikan untuk menulis.

Seorang kawan, Han Gagas namanya tak pernah berhenti membuat guratan dan hentakan. Peristiwa yang mendesing melewati telinganya dan mengusik batinnya selalu bisa dihadirkannya kembali ke dalam sebuah tulisan yang sarat dengan bumbu-bumbu getir, tajam, serasa ingin menjejalkan idealisme yang terbenam lama di dasar otaknya. Melalui gaya tutur yang orisinil, sederhana, mempertahankan setting waktu yang entah berapa tahun lamanya berputar ke belakang – ia tak ingin berhenti mencari bayangannya. Han Gagas seolah begitu menikmati perhelatan jiwanya yang ingin menjelajah lalu terjebak dalam dimensi waktu masa lampau, seolah ia pernah hidup sebelum ibunya melahirkannya. Satu kata yang menjadi karakternya, ia ingin membuat teror mental kepada pembacanya.

Kali ini, aku mendapatkan teror yang ia tebar di koran Kompas, minggu 24 januari 2016. Iya kemarin. Saat tukang koran melempar koran di halaman rumahku, biasanya aku ambil sebelum berangkat maen futsal. Pagi itu pesan WA nya di grup membuatku segera mengambil koran itu dan membolak-balik dimanakah cerpen Wayang Potehi berada. Tak butuh waktu lama, cerpen itu pun aku ketemukan, tetapi tidak aku baca kisahnya. Aku membaca malam harinya.

Han Gagas, seorang sahabat, teman seperjuangan ketika kuliah di Jogja. Sebagai aktivis mahasiswa, ia lebih tekun membaca buku-buku kiri, lalu agak ke kanan lalu ke kiri lagi – dan hanya sesekali saja menunjukkan keseriusan membaca buku kuliah. Tapi ia cukup rajin solat. Iya ada kata-kata “cukup”nya. Hampir sama denganku, kala itu.

Menggelitik buatku, saat aku ketahui bahwa ia menulis cerpen wayang Potehi hanya 1,5 jam dan sanggup mendapatkan 2 halaman. Sosok penulis cepat. Ia tulis cerpennya di malam hari, menjelang tidur tengah malamnya. Sungguh aneh rasanya, karena percikan imajinasinya bisa dengan cepat aku jangkau. Mungkin, karena waktu menunjukkan hampir 11 malam. Yaa…itulah waktu yang biasanya juga aku pakai untuk membuat tulisan di blogku, dulu. Iya dulu…karena hampir beberapa tahun aku tidak lagi menulis blog lagi. Dan inilah teror pertama yang berhasil ia tebar. Aku akhirnya menulis lagi di blog ini.

Teror kedua, perihal kisah Wayang Potehi itu sendiri. Butuh waktu sekian menit untuk menyesuaikan dengan frekuensi imajinasi Han Gagas ketika ia menulis cerpen itu. Yaap..begitulah biasanya caraku untuk bisa membaca sebuah cerpen. Berkali-kali aku baca paragraf pertama, kedua, lalu balik lagi ke paragraf pertama, kedua dan berkali-kali aku musti mengulang membacanya. Pilihan kata yang ia sodorkan, diksi, sejatinya berbeda dengan genre yang biasanya aku pakai, sehingga butuh waktu yang cukup lama untuk bisa benar-benar larut dalam alurnya. Dan begitu masuk, aku menemui sosok Han Gagas yang makin absurd, setengah gila, tapi humanis.

Ia cukup natural dalam menceritakan momen cintanya, lalu tiba-tiba momen itu berubah cepat menjadi goncangan hebat yang memberangus kenyamanan kita sebagai pembaca. Han Gagas lebih ingin menanamkan pesan kepada pembacanya, bukan perihal cinta kasih, tetapi tentang kepahitan yang diderita oleh kaum minoritas, mereka yang terinjak oleh rezim penguasa, dan melawan lupa tentang peristiwa-peristiwa hitam yang dialami oleh mereka yang tak punya tempat untuk membela diri. Han Gagas cukup lihai memainkan simbol, merangkainya menjadi rajutan kisah yang saling berkelindan, bertabrakan, buyar lalu saling terhubung kembali. Bukan tentang cinta yang pupus yang ingin ia bagi ke kita lewat cerpen Wayang Potehi-nya, tetapi sejatinya tentang pengungkapan kebencian atas kebiadaban rezim penguasa.

Cuplikan cerpennya ini bagian yang sulit dilupakan, “Aku menggeleng lemah, dan itu artinya bibirku makin pecah berdarah. Mataku terasa bengkak, nyeri dan perih. Untuk mengurangi rasa sakit aku selalu membayangkan wajahmu, dan menyebut lirih namamu, “Mei Wang….” Wajahmu berkilau dan binar matamu meredam rasa sakit yang merajam seluruh tubuhku. Setelah puas, aku dibawa mereka pergi. “Otak kiri, kau pantas mati!” Ancaman itu menggema di jiwaku. Suaranya seperti ribuan Malaikat Izrail yang hendak mencabut nyawaku. Nyaliku gemetar, rasanya tak ada lagi kehidupan yang membentang di hadapanku. Hatiku menggigil, sepanjang jalan. Tiba-tiba mobil berhenti. Di sebuah jembatan. Aku dikeluarkan dengan tangan masih terikat, dan diceburkan ke sungai yang penuh air. Aku ingat. Aku ingat betul. Aku telah menyerah waktu itu.”

Han Gagas, ia pernah mengajakku minum kopi tapi tidak kesampaian.

3 comments

  1. wah 2 halaman dalam 1.5jam? hebat banget ya, aku aja ber jam jam baru dapet 1 artikel itu pun banyak yang nyontek wkwkwk
    salam kenal mas baru pertama ke blog ini nih hhe

  2. ” Han Gagas, ia pernah mengajakku minum kopi tapi tidak kesampaian. ”

    ==>> ayolah mauw wujudkan,sambil berflash back tentang tulisan tulisan mu yang juga seharusnya sudah bisa terbir menjadi sebuah buku..

    diceburkan ke sungai, sepertinya aku pernah baca ini, tentang sejarah masa lalu yg pedih.menarik kisahnya meski aku belum membacanya.

    hai imauw… kembali menulis ya, and i miss you mauw….

Leave a Reply

Your email address will not be published.

4 + 2 =