gibran2

Syair Penguasa Tua

kahlil-gibranSaudaraku… wahai penguasa sebangsaku.
Apakah yang kau mau? Inginkah kau agar kubangunkan bagimu istana megah dengan hiasan kata-kata hampa dan palsu. Ataukah kubangun kuil-kuil pemujaan materi yang beratap khayalan. Ataukah kausuruh aku menghancurkan segala yang telah kau bangun dengan bala tentaramu yang bodoh dan culas. Haruskah tanaman kemunafikan yang kau jaga dengan sederet pagar keprihatinanmu, kucabuti semuanya dan kutebas dengan pedang. Sebutlah keinginanmu yang tidak waras!

Sahabatku… penguasa sebangsaku.
Apa yang harus kulakukan? Perlukah aku mendengkur, terlelap manis bagai anak kucing malas dan tidur di bawah pintu istanamu, demi kepuasanmu? Ataukah aku harus meraung bagai singa tua yang berhasrat mencari mangsa untuk memenuhi isi perut anak-anaknya yang kelaparan. Aku telah menyanyikan lagu kehormatan untukmu, tetapi kau tidak juga menari. Dan aku telah menangis di hadapanmu, tetapi kau tidak mau mengerti. Haruskah aku menangis sambil menyanyi?

Jiwamu… wahai penguasa sebangsaku.
Jiwamu pedih menderita. Jiwamu keropos karena kelaparan akan kebijaksanaan para sufi, sedangkan serpihan ambisimu yang dangkal berserakan dimana-mana, lebih banyak dari kerikil di lembah sungai. Hatimu telah kering, layu kehausan. Sedangkan kepingan perak materi menyesaki seisi rumahmu. Mengapa tak dari sana kaulepaskan dahagamu?

Laut pasang dan surut. Bulan pun purnama lalu menciut. Silih berganti segala yang ada. Bagai bayang-bayang dewa yang belum lahir, melayang-layang terbang antara ada dan tiada. Tetapi kebenaran tak pernah berubah. Tiada pula bakal surut atau lenyap. Lalu mengapa kau berupaya merusak wujudnya?

Telah kuserukan kepadamu pada malam keheningan yang tenang untuk memandang bulan purnama dan keagungan hamparan bintang-bintang. Merasakan kedamaian dan menangkap pertanda suci yang biasanya ditebarkan Tuhan melalui ilham dan kontemplasi. Mungkin di malam itulah… kekuatanmu hadir kembali. Tapi kau tersentak bangun dari mimpimu, meraih pedang dalam ketakutan sambil berteriak, “dimana musuhku…aku akan membunuhmu!”

Lalu di kala pagi tiba…dan aku berseru lagi kepadamu, karena musuhmu menghadang di ambang pintu. Tetapi kau tidak bangun, sedang tercekam dalam mimpi ketakutan dan tercekat dalam iring-iringan hantu kelam. Musuhmu telah mencuri kesadaranmu, dan kau masih tertidur pulas.

Telah kutangisi penghinaan yang kauderita… wahai penguasa sebangsaku.
Serta kutumpahkan rasa pedihku agar kau mendengar suara tangis anak-anak yang merengek di sudut kota yang kautinggalkan. Airmataku telah bercucuran. Tapi sia-sia kucoba..membakar musnah kelemahanmu.

Apa harapanmu… duhai penguasa sebangsaku?
Maukah kau kutunjukkan, bayangan penampilan wajahmu di sungai yang airnya mengalir dengan tenang. Mari…dan lihat sendiri…betapa keburukan wajahmu membuat ngeri bangsa ini. Pandang dan renungkan. Ketakutan telah mengecat rambutmu menjadi sepucat abu, yang mengendap di dasar tungku. Dan kegetiran hidup telah mengubah matamu menjadi tanpa tujuan. Tinggal cekungan hitam yang hampir padam. Sedangkan hatimu yang pengecut menyentuh pipimu yang kecut.

Masihkah ada yang kaucari… wahai penguasa sebangsaku?
Apa yang kauminta dari kehidupan yang tiada lagi menganggap dirimu sebagai putra sejatinya. Jiwamu membeku dalam genggaman. Kala para penyihir dan penyamun renta mengelus bibirmu, sedangkan badanmu gemetaran menggigil ketakutan dalam cengkeraman mantra yang tak pernah berhenti mendengung di balik telingamu.

Apa yang kauharapkan… wahai penguasa sebangsaku?
Kini kau berdiri tegak di depan wajah matahari senja. Pedangmu bersarungkan kain terkoyak, dan tombak lembingmu telah patah. Perisai tamengmu penuh lubang. Bagaimana kau berani berperang menghancurkan musuh yang telah merampas kesadaranmu.

Kemunafikan menjadi agamamu. Kekosongan menjadi akhirmu. Jadi mengapa kaulanjutkan sisa umurmu untuk terus mengejar kekuasaan? Tak pedulikah kau…dengan jasadmu yang tak sanggup lagi menahan terpaan busur panah musuh. Bukankah kematian menjadi satu-satunya kenyamanan, yang harusnya kau persiapkan?

Kehidupan itu suatu tekad yang menyertai keremajaan. Dan suatu kegigihan yang mengikuti kedewasaan. Dan suatu kebijaksanaan yang mengejar kepikunan. Tapi kau…wahai penguasa sebangsaku. Yang berakhir tua dan renta. Ragamu telah layu dan isi kepalamu mulai menyusut. Masih saja kejar mengejar berlarian dalam lumpur, kalian saling melempar bebatuan.
Harus kupanggil apa…dirimu?

……………………………………………………………………..
1000 % Kahlil Gibran “Lagu Gelombang”. Baca juga : sendirinya

23 comments

  1. untuk saudara sebangsa dan setanah,ah apa masih pantas dipanggil saudara jika sesama saudara saja masih tidak perduli atau pura pura perduli? tetapi mata dan telinga telah terkunci.

    imauu..,
    saat purnama akhirnya muncul juga dirimu inuyasha :D

  2. Assalaamu’alaikum wr.wb, Elmoudy…

    Sungguh mengecewakan jika penguasa yang diamanahkan oleh bangsa tidak mengambil berat akan tanggungjawab yang diberikan atas bahunya.

    Pasti bangsa akan jadi lemah dan kemajuan jua bisa musnah sekelip mata tanpa ada yang mampu mengadah lelah untuk mempertahankannya.

    Mudahan keluhan ini bisa dimengertikan betapa bangsa kita, di mana-mana sahaja berada, jika tidak ada jati diri mencintai negaranya, maka pasti kita akan rebah membumi tanah melihat negara terjajah sudah.

    Salam sejahtera dari Sarikei, Sarawak. :D

  3. Haloo mbaa saya juga suka menulis puisi. Tapi untuk menulis di blog saya masih ragu hehe tapi saya suka sama blog ini sukses terus mba tetap menulis yaa:)

    Visit back ya mba kalau ada waktu di : indahsdaily.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.

4 + 6 =