17.09.2010 | 8,665 views

Pada suatu waktu yang tidak ditentukan, tampaklah sebutir debu yang melayang-layang terlepas dari tubuh induknya. Sebutir debu itu melayang-layang seperti diterbangkan angin misterius yang teramat lembut..menyelimuti dan mendekapnya hangat.. terus saja melayang meninggi dan teruss… menjauh dari asalnya. Pada putaran waktu yang masih belum ditentukan, tiba-tiba ia sadari bahwa keberadaannya telah terlalu jauh..sangat jauh.. dan sampailah ia di suatu ruang waktu yang terasa asing. Ia tengak tengok ke sekelilingnya.. dan bertanya keheranan dimanakah ini…bagaimana ia bisa sampai di tempat ini.

Ia tersesat..sendirian..tak ada teman atau benda apapun yang menyerupai dirinya.. ia kebingungan mencari wujud apapun yang bisa ia kenali..mencari-cari celah cahaya yang bisa membukakan matanya. Tapi semuanya kosong dan gelap gulita tanpa ada petunjuk satu pun yang bisa ia kenali. Kemana sekawanan debu-debu lain yang biasa memperolok-olok dia? Kemanakah rerumputan yang biasa ia pakai merebahkan tubuhnya? Kemana segerombolan semut yang biasa menyiksanya? Kemanakah cacing yang biasa mengajaknya jalan-jalan? Dimana mereka?

Ia mulai panik dan berteriak sekencangnya, memanggil nama-nama yang sanggup ia ingat. Tapi suara atau jeritan yang ia tumpahkan… sepertinya tak ada satupun bunyi yang keluar. Ia coba sekali lagi dengan mendendangkan lagu-lagu kesukaannya…tapi ternyata semuanya seperti terhenti dan tercekat di kerongkongannya. Ia seperti berada di ruang hampa yang senyap, tak berujung dan tak berbatas.  Ia makin panik dan berpikir..apakah ia baru saja mati. Ia coba mencari dan meraba kulit tubuhnya..dan anehnya..tak ada satupun yang tersentuh..tak ada apapun.. bahkan ia tak bisa mengingat bagaimana cara melakukan persentuhan. Yaa mungkin karena ia hanyalah sebutir debu, yang ditakdirkan tak punya kuasa apapun kecuali bergumam ala kadarnya.

Ia terpaku diam..hanya bisa diam seribu bahasa…dan masih  dengan penuh rasa heran memandangi kekosongan yang gelap gulita. Hingga pada putaran detik yang cukup lama dan sulit dihitung detakannya…ia tertidur pulas sekali dan bermimpi. Dalam mimpinya… ia seperti baru saja terbangun dari tidurnya yang teramat panjang, dan ia mulai melihat ada secelah cahaya kecil yang tipis… seperti sinar laser redup yang menerobos batinnya yang tembus pandang. Cahaya itu ia telusuri kedalamannya… semakin dalam dan menjauh…hingga mengarah pada suatu ruang waktu yang memang teramat jauh…mungkin berjarak satu juta tahun cahaya..mungkin. Akhirnya sampailah ujung cahaya itu.. pada tempat dimana ada kumpulan gugusan bola-bola kecil yang berputar pelan mengitari bola panas berpendaran sinar kuat.

Ia dibisiki oleh cahaya yang makin menipis itu.. tentang wawasan baru yang membuka cakrawala pengetahuannya. Bahwa bola panas itu dinamakan matahari, dan kumpulan bola-bola yang mengitarinya itu adalah planetnya. Diantara bola-bola kecil di sana terlihat satu bola mungil yang berwarna biru safir, sebagian kecil makhluk di jagad raya ini menyebutnya dengan bumi. Ia tersentak dengan apa yang ia dengar.. ia seperti pernah mendengar nama itu..tapi entah kapan dimana. Ia seperti hilang ingatan dan mencoba mencari bagian serpihan-perpihan memorinya yang telah lama tak terpakai. Tapi tak jua ia mampu menemukan serpihan itu dan blank…… tak ada satupun memori yang tersisa. Ia lupa sama sekali. Ia coba berspekulasi,  bahwa ia mungkin saja telah terlepas jauh sekali dari kampung halamannya. Bisa jadi.. ia tersesat dan terdampar di tepian tata surya. Ataukah jangan-jangan.. ia telah terbuang dari selaput langit pertama?

Ia pun masih bermimpi… dan ingin meneruskan mimpinya… tak tahu kapan ia akan menghentikan mimpinya. Ia masih ingin berselancar dalam dunianya yang sunyi itu.  Mencoba mengumpulkan daya kreasinya yang mampu ia himpun.. berusaha menandai setiap partikel-partikel kegelapan yang melewati selubung batinnya.. menangkap dan menyimpannya dalam tubuh sukmanya. Lambat laun ia mulai memahami makna eksistensi, menyelami hakekat kesenyapan diri yang tak lain adalah sisi lain dari keramaian kosmik.. ia sepenuhnya mengerti bahwa di balik penampakan materi jagad raya..terselip plasma antimateri yang tersusun dari partikel-partikel kegelapan yang menyelimuti gugusan tata surya… gugusan galaksi atau materi angkasa lainnya.. yang melayang pada ruang bola langit. Ia masih ingin… dan berharap suatu waktu..menjadi bagian dari antimateri yang tak kan pernah bisa dideteksi oleh makhluk kasat mata.

Pada suatu waktu dan ruang yang tak begitu jauh.. sebutir debu itu…tak pernah menyadari bahwa jerih payahnya itu akan sia-sia…mimpi itu terlalu jauh..absurd.. dan suatu saat mungkin ia akan terbangun dengan sendirinya..lalu akan terbengong linglung.. kalau sejatinya ia sedang tertidur pulas di atas sehelai daun yang tertiup angin sepoi-sepoi.


inspired from : darkshines.muse.

Comments

julie

selalu keren si moudy
sebutir debu itu adalah aku :D

Sep 17.2010 | 03:51 pm

yogi

Debu yang berterbangan…salam kenal

Sep 17.2010 | 04:09 pm

zee

Mod.
Gw ga bisa buka dari bb. Susah bener jaringannya.

Tulisan lu dalam ya Mod.
Agak takut membayangkan diri gue seperti sebutir debu yang tersesat itu, karena pada dasarnya sebenarnya bumi ini pun hanya setitik debu saja di angkasa ini. Apalagi manusia ya…. :(

Minal Aidin Walfaidzin ya Mod. Dah maaf2an blum lu ama …..dia? :D

Sep 17.2010 | 04:21 pm

Kakaakin

Syukurlah aku bukan sebutir debu itu… karena aku nggak suka jalan2 bareng cacing :D
Mohon maaf lahir dan batin ya… :)

Sep 17.2010 | 08:59 pm

aldy

El, debu itu menjadi gambaran diri kita sendiri, ketika kita sadar akan kebesaran sang Khalik, mungkin debu itu akan menyatu kembali dengan induknya.

Sep 17.2010 | 09:13 pm

Ifan Jayadi

Dan kita tidak pernah tahu, apakah perjalanan hidup kita akan juga seperti debu yang beterbangan sesuka angin membawanya.

Tetapi jika kita kuat dan tak rapuh, maka kita akan mengendalikan diri kita untuk tidak menjadi bagian dari debu tersebut dan memilih menjadi sesuatu yang lebih berharga dari itu.

Minal Aidzin Wal Faizin. Mohon Maaf lahir dan Bathin :D

Sep 18.2010 | 04:40 am

Yari NK

Biarpun si debu yang kecil itu tersesat terombang-ambing di ruang waktu yang tidak ia kenal, tetapi bisa jadi ia adalah seorang pioneer yang mempelajari dan mencatat pertama kali kejadian2 atau fenomena2 yang terjadi di dalamnya. Mudah2an walaupun si debu tidak kuasa melawan pusaran yang membawanya ke ruang dan waktu yang asing tersebut namun ia minimal bisa mempelajari sesuatu agar ketika suatu hari ia bisa kembali nanti, ia akan mempunyai catatan tentang perjalanannya yang berharga dan bermanfaat bagi debu2 lainnya…. apalagi jikalau catatan tersebut bisa didokumentasikan! Hehehe…

Sep 18.2010 | 04:45 am

Sungkowoastro

Kunjungan balik, mas.

Keterpisahan dari induk sesuatu yang alami,yang siapa pun akan mengalami. Dan, dalam keterpisahan itulah, justru ia akan menemukan “energi” yang dahsyat untuk tetap teguh menjalani keberlangsungan hidup. Yang, seanantiasa menyuguhkan fenomena misterius.

Salam kenal dan kekerabatan.

Sep 18.2010 | 07:08 am

teguhsasmitosdp1

Debu sejatinya adalah kita, yang berarti tidak memiliki kekuatan apapun, kemampuan sedikitpun, dibandingkan kekuatan, kemampuan, dan ilmu Allah. Karena itu kesombongan adalah suatu usaha sia-sia karena sejatinya kita tidak bisa apa-apa. Salud El, ….salam dari pekalongan.

Sep 18.2010 | 08:31 am

Erlina WT

ga sanggup menggapi imaji sang penulis ;)

Sep 18.2010 | 08:50 am

mbah jiwo

sebutir debu itu nasib seorang manusia…halah :lol:

Sep 18.2010 | 08:58 am

bundadontworry

yakin sebutir debu itu adalah gambaran diri kita ketika berada dihadapan NYA yang Maha Besar .
Salam

Sep 18.2010 | 10:31 am

Yuni

Debu oh debu.. mungkin kita adalah sebutir debu itu..

Sep 18.2010 | 10:36 am

teguhsasmitosdp1

Debu adalah kita yang tidak sedikitpun memiliki kemampuan, kekuatan apapun bila berada sendiri, kita butuh yang lain, makanya tidak boleh sombong. Luar biasa. Bagus med. salut

Sep 18.2010 | 10:48 am

tuyi

kemanapun angin berhembus debu akan terbawa tanpa arah…. ~_~

Sep 18.2010 | 11:11 am

Siti Fatimah Ahmad

Assalaamu’alaikum Elmoudy

Saya sangat senang dan kagum membaca lirik-lirik bahasa dan untaian kata yang terkandung dalam setiap bicara wara penulisan Elmoudy. Cukup mengesankan jalan idenya bagi menyampaikan sesuatu yang bermakna melalui siratan yang tersurat.

Kita sendiri adalah debu-debu yang sedang menerawang di dunia ini untuk mencari jalan kebenaran dan jalan pulang agar selalu sadar diri kerana pastinya kita akan kembali kepada induknya yakni Tuhan Yang Esa. Semoga kita selalu berada pada jalan yang lurus.

Salam mesra selalu dari saya di Sarikei, Sarawak.

Sep 18.2010 | 02:16 pm

Siti Fatimah Ahmad

Mas Elmoudy, link blog ini sudah saya tautkan di blog baru saya dalam ruang Dunia Sahabat. Silakan semak untuk perkenankan masukannya.

http://webctfatimah.wordpress.com/dunia-sahabat/

Semoga jalinan persahabatan akan terus terjalin baik pada masa depan.
Mudahan kita selalu menjadi suci dalam debu.

Sep 18.2010 | 02:19 pm

orange float

sedih rasanya menjadi debu, terpisah jauh dari keluarga dan teman. seperti musyafir berjalan tanpa tujuan

Sep 18.2010 | 02:48 pm

bayuputra

wah … saya madih kurang paham mas ,,, perlu 2 – 3 x membacanya …

Sep 18.2010 | 05:22 pm

bayuputra

maaf baru berkunjung …
Salam Persahabatan Blog dari Kalimantan Tengah.

Sep 18.2010 | 05:23 pm

tary ssi

terkadang kita seperti debu itu, terombang ambing dalama ketidak pastian.

Sep 18.2010 | 07:50 pm

HALAMAN PUTIH

manusia merupakan sebuah debu di makrokosmos dan sebuah debu pula di mikrokosmos

Sep 19.2010 | 08:44 am

pendarbintang

“memahami makna eksistensi”

Saya suka kalimat ini, sangat dalam dan membuat saya berpikir.

Saya suka :)

Sep 19.2010 | 07:36 pm

Alris

Saya mungkin perlu baca berulang-ulang untuk memahami posting keren ini.

Sep 19.2010 | 11:40 pm

Betania

ayooo temen-temenku tersayang! tingkatkan pahala kalian dengan membaca artikel yang saya buat dan memberikan komentar dan LIKE kalian pada blog saya : http://pelangiituaku.wordpress.com/2010/08/24/welcome-to-the-next-city-2010-%E2%80%9Cjelajah-kota-depok-2010%E2%80%9D/ !!! jangan lupa yaaa… makasiiih ^_^
salam dari
pelangiituaku

Sep 19.2010 | 11:47 pm

andipeace

uda terbayangkan bagaikan debu..namun tetap saja ada yang serakah :(

Seamat idul fitri 1431 H,Maaf lahir & batin mas

Sep 21.2010 | 01:14 pm

senyumdhika

hmmm.. kayaknya bisa nih jadi penulis novel fiksi.. hehehe^^

Sep 22.2010 | 08:42 am

heny

tertegun….

seperti mengalami dejavu… gue kah si “debu” itu?? ^x^

Sep 22.2010 | 10:39 am

Usup Supriyadi

:)

semoga kita tidak seperti debu…

Sep 22.2010 | 03:01 pm

gusthy

dalam sedalem-dalemnya…

Sep 22.2010 | 05:12 pm

Kika

Wowww.. Membayangkan betapa sabarnya menuliskan itu semua…y_

Sep 22.2010 | 06:54 pm

Gravisware

seperti biasa… selalu luar biasa.. :)

Sep 22.2010 | 10:59 pm

nurhayadi

Sebutir debu yang mudah diterbangkan angin kemana mereka suka.

Sep 23.2010 | 01:22 am

Siti Fatimah Ahmad

Assalaamu’alaikum Elmoudy

Kembali menyapa untuk bertanya khabar dan menikmati cetusan ide yang mengesankan dalam menyemarak minat kepada penulisan yang berunsur sastera dan penuh dramatik.

Semoga elmoudy terus berkarya dan menulis dengan hati agar apa yang terlahir dapat dinikmati dengan hati yang mendalam.

Salam mesra dari Sarawak.

Sep 23.2010 | 03:25 pm

genthokelir

salut salut
betapa dalam dan sangat hati hati dalam menuangkan isi pikiran ke dalam tulisan
yang memiliki makna yang dalam
salam

Sep 23.2010 | 06:59 pm

Didien®

lama tak singgah kemari, apakabar sob?
tulisanmu tetap dg bahasa yg sangat bagus…

salam, ^_^

Sep 25.2010 | 11:20 pm

Caride™

setiap baca tulisan kang moudy harus selalu berulang-ulang utk memahaminya…salut sob….

Sep 25.2010 | 11:22 pm

Kuker

kunjungan akhir pekan, ikut membaca tulisan² yg bermakna dalam disini..

Sep 25.2010 | 11:23 pm

bimbel online

artikel yang sangat menarik,,,

Dec 12.2013 | 06:25 pm

Leave a Reply

Your email address will not be published.

+ 57 = 64