rakaat-panjang01

Rakaat Panjang bersama Cak Nun

11.11.2016. Persis pukul 11 malam, Cak Nun hadir di hadapan jama’ah Maiyah Kenduri Cinta yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Mengangkat judul Rakaat Panjang, hmm cukup menggelitik. Seolah ada tarikan kuat dengan frase Rakaat Panjang ini, seperti anjuran menulis kisah yang lebih seru dari tulisan tentang Mudik di atas Sajadah Panjang.

Sebelum Cak Nun datang, jamaah berdiskusi dulu, sesi pemanasan, mengenali dan mengimajinasi tentang apa itu Rakaat Panjang, dan apa korelasinya dengan Maiyah. Kilasan makna yang kemudian bisa saya tuliskan adalah, bahwa Rakaat Panjang ini hadir sebagai refleksi atas apa yang sedang terjadi dengan negeri ini. Tentang momentum 411 yang terjadi 7 hari yang lalu kala umat Islam berkumpul di jantung ibukota menyuarakan aspirasi untuk meminta keadilan atas pernyataan Ahok yang diduga mengarah pada penistaan terhadap Al Qur’an dan Ulama.

Peristiwa 411 itu, di satu sisi menjadi bukti bahwa umat Islam di Indonesia adalah ummat dalam naungan tauhid, persatuan dalam satu aqidah, sebagai rahmatan lil ‘aalamiin. Umat yang mencintai kedamaian dan..juga kebersihan. Dan di sisi yang lain, menjadi bukti bahwa umat Islam di Indonesia adalah umat yang cinta keadilan dan taat hukum. Jika ada percikan-percikan api kecil ba’da magrib..maka itu cukup dipahami ada oknum (anak) kecil..ah maksudnya pemuda-pemuda tanggung dan polos, yang bisa diselesaikan cepat dan tidak lantas menggugurkan substansi besarnya.

Maka, mari kita bermaiyah, bersama-sama hadapkan wajah kita mengarah ka’bah, ambil air wudhu untuk membersihkan prasangka-prasangka liar. Lenturkan raga kita, dan redupkan pandangan mata mengarah ke batas sujud. Gelar sajadah panjang, dan bersiaplah untuk menatap Cahaya Allah dalam rakaat yang panjang.

Karena rakaat panjang hakekatnya adalah siraathal mustaqiim, jalan lurus yang kita tempuh secara berjamaah, dalam rentang waktu yang tidak terbatasi, dalam siklus kehidupan yang tak pernah terhenti – dengan membawa bangsa ini tetap berada dalam tatapan Allah, tetap berada dalam jalan yang diridhai-Nya, berada dalam perlindungan-Nya.

Sebuah rakaat panjang, dimana kita semua bisa tenang dan rileks dalam meresapi kesunyian dalam keriuhan kota, apapun profesi, apapun sukunya, apapun daerahnya, apapun asalnya, apapun rasnya, apapun agamanya. Karena tanah nusantara yang kita pijak ini, adalah sajadah panjang yang digelar oleh Allah sendiri, bagi semua manusia yang pantas hidup di dalamnya. Yaitu mereka yang pikirannya seluas alam semesta, hatinya sedalam samudera, dan jiwanya penuh welas asih – tanpa ada benci, tanpa ada caci dan maki. Jika sampai ada kata benci, kata caci maki yang terlontar, maka batal-lah rakaat yang kita jalani. Dan ambil air wudhu lagi. Kembali ke siklus awal rakaat panjang.

Cak Nun memulai perbincangannya, diawali dengan pertanyaan, siapakah sejatinya kita? Apakah kita ini mikrokosmos ataukah makrokosmos? Batinku sedikit tersentak. Kenapa? Karena pertanyaan ini juga yang ditanyakan oleh guru ngajiku ketika pertama kali saya ngaji di Padepokan Thaha, sepuluh tahun silam..hmmm di tanggal yang sama, 11. Saat itu, guru ngajiku bertutur bahwa Allah ada di dalam dirimu. Allah meliputi segalanya. Engkau adalah kosmos. Dirimu adalah mikrokosmos dan makrokosmos, menyatu dalam jiwamu. Ini bukan ajaran Siti Jenar, atau al Hallaj. Dan Nur Muhammad adalah Cahaya yang Allah ciptakan pertama kali, sebelum jagad raya ini digelar. Allahu nuurussamawati wal ardh. Allah Cahaya Langit dan Bumi… QS. an-Nuur: 35.

Cak Nun melanjutkan. Apakah hatimu sedang berada di dimensi kedalaman, ataukah kedalaman yang berada di dalam hatimu? Apakah ke-luas-an ada di pikiranmu, ataukah pikiranmu yang ada di ke-luas-annya? Begitu kalimat khas Cak Nun yang sengaja disodorkan, guna memantik daya logika kita untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana, mendasar tetapi penting untuk dijawab. Setidaknya memancing kita untuk tidak malas berpikir, dan terus berpikir hingga logis dan rasional. Wis apal karepe Cak Nun…

Dalam muqaddimah Rakaat Panjang, dijelaskan bahwa maiyah, dengan tema rakaat panjang ini, dilakukan dengan mengambil jurus jalan panjang, perjuangan panjang dengan nafas panjang, berpikir panjang, berhitung lengkap, energi yang simultan, stamina yang tangguh, tidak sumbu pendek, berstrategi komprehensif, presisi pada skala prioritas… ujungnya cinta dan setia kepada firman Allah. Maiyah merintis lahirnya kekasih-kekasih Allah yang semakin banyak. Di sinilah diketemukan, maiyah kumpul dalam kebersamaan dan kebahagiaan, penuh tawa tapi penuh makna. Benar-benar bersumbu panjang, dari jam 8 malam sampai jam 4 pagi tetap enjoy dilakukan. Tentu karena ada Cak Nun hahaaaa…

Lantas, apa yang sesungguhnya sedang terjadi, tepatnya pasca 411 minggu kemarin? Pergunakanlah perspektif yang lebih luas, dan lebih luas lagi. Kata Cak Nun loh. Kalau demo 411 hanya dimaknai sebagai reaksi atas tindakan Ahok yang diduga menistakan agama, sungguh disayangkan. Kalau demo 411 itu dimaknai sebagai reaksi atas tindakan satu orang yang menyulut emosi jutaan orang, tentu lebih dari itu. Atau misal perspektif Presiden Jokowi, demo 411 dimaknai sebagai benih-benih tindakan makar, benih kecil yang berniat menggulingkan Bapak Presiden? Aduh ini kejauhan. Atau demo 411 dimaknai sebagai upaya memecah belah bangsa? Aduh kenapa makin ndak jelas arahnya.

Jokowi dalam merespons demo 411, juga sepatutnya lebih bijaksana dalam mensikapinya. Dalam acara ILC misalnya, kenapa unsur pemerintah yang datang Kapolri dan Panglima TNI? Dimana Menteri Agama atau Juru Bicara Presiden? Nuansa yang muncul seolah demo 411 bisa dihadapi dengan pendekatan militer, begitu? Dan Jokowi kemudian roadshow ke markas-markas TNI, Kopassus, Brimob, Marinir,…yak serba beraroma militer. Pesan yang tertangkap justru, “kalau pengen ribut mereka semua ada di belakangku! Mau apa??”. Silaturahmi ke NU dan Muhammadiyah..belum cukup meyakinkan publik bahwa kunjungan itu bertujuan untuk merespons positif demo 411. Tapi sebaliknya, mengesankan melobi NU dan Muhammadiyah untuk jangan demo lagi, tolong Ahok jangan didemo lagi. Gitu kira-kira naluri obrolan di warung kopi.

So, please Bapak Presiden yang terhormat, bangun suasana yang lebih kondusif, tenangkan umat Islam khususnya yang ikut demo 411. Datangilah MUI, Bachtiar Nasir, Aa Gym, Amien Rais, Habib Rizieq, dst. Ajak mereka berdialog juga. Toh itu lebih berjiwa besar, keren dan meneduhkan.

Siapakah tokoh bangsa yang saat ini masih bisa didengar? Adakah? Apakah Jokowi? Apakah Prabowo? Apakah JK? Apakah SBY? Apakah Megawati? Apakah Habibie?  Apakah Amien Rais? Apakah Buya Syafi’i? Apakah Said Aqil? Apakah Ketua MUI, siapa namanya? Siapa…? Lagi..?? adakah?

Ini yang rada mengkhawatirkan. Ulama dicerca, dimaki oleh ummatnya sendiri. Umara atau pemimpin pun dicaci, dimaki oleh rakyatnya sendiri. Kenapa bangsa ini tiba-tiba saja kehilangan tokoh panutan? Gejala ketidakwarasan sosial sudah ga ketulungan. Media sosial sengaja digelar oleh si pemiliknya..yang duh maaf Yahudi – agar gesekan kecil umat Islam bisa ditransformasi menjadi ledakan botol bensin..Blaapppp. Hantam-hantaman di media sosial, facebook, twitter, youtube, saling bela dan saling maki. Sesama anak bangsa..anak-anak muda, dan ditambah orang-orang tua ikut meramaikan dunia persilatan per-sosmed-an. Herannya lagi, SBY kena ciprat pula. Bapak mantan Presiden RI, larut dalam perang-perangan media sosial. Buya Syafi’i tegas mengatakan, sadis betul media sosial. Ya inilah maksudnya…

Lantas, siapa yang bisa mengendalikan situasi – jika – dan jika – jika saja – rakyat betul-betul bingung dan stress? Cukup digoyang rupiah anjlok, atau rakyat banyak kehilangan pekerjaan, sudah…wassalam. Duh, jangan sampai negeriku.

Panglima TNI sudah menyampaikan, bahwa ancaman terbesar kita bukanlah umat Islam Indonesia. Bukan rakyat NKRI. Tetapi bahaya dari luar yang sudah siap-siap menggoreng isu apa saja, dengan tujuan mengobrak-abrik kedaulatan NKRI. Umat Islam, sedang dijadikan gelandangan di negerinya sendiri, kata Cak Nun.

Ah sudahlah…..lantas apa yang bisa dipetik dari maiyah kali ini? Jangan terlalu over mensikapi Ahok dengan demo dan demo, atau dengan perang gempur-gempuran hastag di media sosial. Karena jatuh di lubang kedua, akan jauh lebih besar dampak dan bahayanya. Dan betul yang dikatakan Buya Syafi’i Ma’arif. Biaya nya sangat mahal. Bukan soal biaya materiil, tetapi biaya sosial yang tak terukur lagi nilainya. Tapi, selesaikan kasus Ahok secepatnya, dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Secara pribadi, saya haturkan salam hormat pada Buya Syafi’i Maarif. Salam hormat pada Aa Gym. Kalian, ulama yang saya kagumi, baik ketika hadir di ILC atau sesudahnya. Dan Cak Nun yang tak henti mengajarkan tentang perspektif membaca presisi gambaran besar, tidak terjerat di labirin sempit.

Dan doa buat Jokowi. Doa ini saya posting di akun fb setelah Jokowi terpilih menjadi Presiden RI, tepatnya 22 Juli 2014:

Ya Allah, jadikanlah Jokowi menjadi pemimpin kami sebagai orang yang baik, jujur dan amanah. Berikanlah taufik kepadanya untuk melaksanakan perkara terbaik bagi dirinya, bagi rakyat dan bangsa Indonesia. Ya Allah, bantulah Jokowi untuk menunaikan tugasnya sebagai Presiden RI, sebagaimana yang Engkau amanahkan kepadanya, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, jauhkanlah Jokowi dari teman dekat yang jelek dan teman yang merusak. Juga dekatkanlah Jokowi dengan orang-orang yang baik dan pemberi nasihat yang baik. aamiiin