katak

Kodok yang Berlayar

kodok2Empat ekor kodok berjongkok di atas balok yang mengambang di tepi sungai. Tiba-tiba balok itu terseret arus dan mengalir terus. Kodok-kodok itu merasa sangat senang dan girang, karena mereka belum pernah berlayar sekali pun.

Suatu saat kodok pertama membuka percakapan, ujarnya, “Balok ini sungguh mengagumkan. Ia bergerak seakan-akan hidup dan memiliki tujuan yang pasti. Tak ada balok seperti ini. Sungguh pengalaman yang menakjubkan.”

Kodok kedua menyela dengan penuh keyakinan, “Tidak kawan, ..tidak. Balok ini seperti balok-balok yang lain. Ia tidak bergerak. Yang bergerak adalah air sungai ini, yang mengalir menuju samudera. Air inilah yang membawa kita bersama balok.”

Kodok ketiga pun tak ingin ketinggalan. Ia pernah belajar filsafat dan kata-kata bijaknya keluar,” Bukan….bukan. Kalian hanya melihat sisi luar saja. Kalian tentu salah mengerti. Bukan balok dan bukan pula air sungai yang bergerak. Tapi, yang bergerak adalah pikiran kita. Tanpa pikiran, tak ada yang dapat bergerak.”

Ketiga kodok itu saling pandang…seolah ada keraguan di mata mereka. Lambat laun mereka bertiga mulai beragumen lagi…hingga akhirnya cekcok, memanas. Pertikaian silang pendapat semakin keras dan tidak terkendali. Dan tak mungkin ada kata kesepakatan yang bisa dicapai.

Kemudian, mereka memandang kodok keempat, yang hingga saat itu hanya mendengarkan dan memperhatkan saja…menahan diri mungkin. Ketiga kodok itu memintanya untuk memberikan pandangan.

Kodok keempat itu pun berdiam diri dan memandang cakrawala. Dan dengan segala kepolosan, kodok keempat pun berkata, “Kalian semuanya tidak ada yang salah. Yang bergerak adalah balok ini, air sungai ini, dan juga pikiran kita. ”

Ketiga kodok itu pun menghela nafas. Mereka saling pandang, seolah heran dengan apa yang dikatakan kodok keempat. Mereka naik pitam, karena tidak satu pun di antara mereka yang diakui, dan dikatakan bahwa pendapatnya tidak benar sepenuhnya, dan pendapat yang lain tidak salah seluruhnya.

Maka terjadilah peristiwa yang ajaib. Ketiga kodok itu geram dan mendorong kodok keempat hingga terjatuh dari balok dan tercebur ke dalam sungai.

…………………………………………..

Sementara itu, di suatu tempat dan waktu yang jauh dari cerita di atas. Selembar kertas seputih salju bergumam dengan hatinya, “Aku ini tercipta secara murni, karena itu aku akan tetap murni selamanya. Lebih baik aku dibakar dan kembali menjadi abu putih daripada menderita karena tersentuh kegelapan atau didekati oleh sesuatu yang kotor.”

Lalu secara tidak disadarinya, tinta botol mendengar kata-kata kertas itu. Ia hanya bisa tertawa sedih dalam hatinya yang hitam, tapi tidak berani mendekati sang kertas. Pensil-pensil beraneka warna pun mendengarnya, dan mereka tidak pernah berani mendekatinya.

Dan selembar kertas yang seputih salju itu tetap terjaga kesuciannya dan murni selamanya, suci dan murni. Tetapi, kosong.

…………………………………………
1000 % Kahlil Gibran.

21 comments

  1. Si kodok ke-empat yang malang.. karena ketiga temannya yang berpikiran sempit.

    Tapi apa hubunganya cerita kodok dan kertas putih???

    Pikiran sempit dan ego kah maksud 2 cerita di atas?

  2. kodok keempat lebih baik karena mencoba mencari solusi terbaik ,,seharusnya pemerintah kita jg bisa mencari solusi terbaik untuk masalah yang melanda negri kita

  3. Assalaamu’alaikum wr.wb, Elmoudy…

    Kisah yang mencerahkan untuk memikir sama apakah yang terkadung dalam pendapat 3 kodok tersebut dan kenapa kodok keempat menyetujui semua pendapat tersebut.

    Menurut saya, kodok keempat ingin menyuarakan yang sepatutnya bergerak untuk belayar di sungai itu adalah diri mereka sendiri bukan setakat menumpang balok, sungai atau fikiran.

    Jika diperhatikan, semua makhluk Allah SWT mengerti apa yang berlaku di sekelilingnya. Hanya manusia sahaja yang buat tidak tahu.

    Posting yang mencerahkan. Semoga sukses.
    Salam dari Sarikei, Sarawak. :D

Leave a Reply

Your email address will not be published.

+ 57 = 63