<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pergilah kemana hati membawamu</title>
	<atom:link href="http://www.elmoudy.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.elmoudy.com</link>
	<description>pergilah kemana hati membawamu</description>
	<lastBuildDate>Mon, 07 May 2012 14:23:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Pesan dari Hugo Cabret</title>
		<link>http://www.elmoudy.com/pesan-dari-hugo-cabret</link>
		<comments>http://www.elmoudy.com/pesan-dari-hugo-cabret#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 May 2012 06:22:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elmoudy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elmoudy.com/?p=1735</guid>
		<description><![CDATA[Film ini telah berhasil memberiku pesan sederhana dalam memahami satu hal, sebuah alasan kenapa kita hadir di dunia ini. Alkisah Hugo Cabret, sosok anak kecil yang ditinggal kedua orang tuanya hidup sebatang kara di lorong sempit di atas bangunan stasiun kereta api. Selayaknya anak gelandangan yang tak seorang pun peduli saat dia sedang lapar, Hugo [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://www.elmoudy.com/pesan-dari-hugo-cabret&amp;layout=standard&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe><p><a href="http://www.elmoudy.com/wp-content/uploads/2012/05/hugo02.jpg"  rel="lightbox-1735"><img class="alignleft size-full wp-image-1738" style="margin-left: 7px; margin-right: 7px; margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" title="Hugo Cabret" src="http://www.elmoudy.com/wp-content/uploads/2012/05/hugo02.jpg" alt="" width="268" height="380" /></a>Film ini telah berhasil memberiku pesan sederhana dalam memahami satu hal, sebuah alasan kenapa kita hadir di dunia ini. Alkisah Hugo Cabret, sosok anak kecil yang ditinggal kedua orang tuanya hidup sebatang kara di lorong sempit di atas bangunan stasiun kereta api. Selayaknya anak gelandangan yang tak seorang pun peduli saat dia sedang lapar, Hugo masih memiliki sedikit tujuan bagaimana hidup layak dijalani, di tengah himpitan sesak lalu lalang manusia yang datang dan pergi pada sebuah stasiun kereta api.</p>
<p>Dalam kesendiriannya, Hugo lebih suka mengamati interaksi orang-orang dari atas balkon bangunan stasiun&#8230;ada tawa.. sedih.. keceriaan.. kebersamaan.. kekerasan.. rasa takut.. cemas, dan apapun ekspresi yang terluapkan dalam interaksi itu. Dalam kesendiriannya itu, Hugo seolah sedang mencari, dimanakah ia seharusnya mengambil peran. Kapankah ia akan bisa tertawa.. berbahagia&#8230; di saat ia hidup sendirian dan dipenuhi rasa cemas tatakala berada di tengah keramaian. Ia tidak bisa mengerti kenapa ayah dan ibunya pergi terlalu cepat, dan kenapa ia bisa tersesat hidup di sudut-sudut gelap stasiun. Ayahnya hanya meninggalkan sebuah mesin tua menyerupai robot manusia yang telah rusak. Mesin itu tersusun dari gerigi-gerigi roda seperti gerigi mesin jam yang saling bertautan. Dan ayahnya berpesan, &#8220;rawatlah mesin tua ini.&#8221;</p>
<p>Ia sangat berharap terhadap mesin robot itu. Tapi tak ada yang bisa ia lakukan, kecuali menatap wajah mesin tua itu dengan iba &#8211; seolah senasib dengannya, hidup sendirian dan terbuang. Ia bertekad untuk memperbaiki mesin tua itu. Hampir setiap hari, ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mencari akal bagaimana caranya memperbaiki mesin itu. Ia tidak hanya ingin mencari makan untuk mengisi perutnya yang kosong, tapi lebih dari itu&#8230;ia bekerja dengan susah payah untuk mencari berbagai komponen tambahan mesin itu agar bisa berfungsi lagi dengan baik.</p>
<p>Hugo meyakini, ketika ia menatap hamparan kota Paris yang sangat sibuk dan padat, ia membayangkan&#8230;dunia adalah sebuah mesin yang sangat besar. Mesin yang tidak pernah datang dengan komponen tambahan. Mereka selalu datang dengan jumlah yang tepat, dengan fungsi dan tujuan yang sudah pasti.  Dan jika seluruh dunia adalah mesin yang besar dan utuh, maka keberadaan dirinya bukanlah sebagai komponen tambahan. &#8220;Kita ada di sini, pastilah karena beberapa alasan,&#8221; begitu yang ia yakini.</p>
<p>Semua benda yang ada di sekitar kita, memiliki fungsi dan tujuan atas keberadaannya. Jam dinding ada untuk memberitahu kita perihal waktu, kereta api membawa kita pada kota tujuan, sepatu membantu kita berjalan agar tidak terluka, payung menghalau air hujan dari atas kepala kita,  pensil membantu menuliskan isi pikiran kita. Dan begitulah semua benda ada fungsi dan tujuan yang ingin dicapai.</p>
<p>Tapi jika benda itu rusak, maka tujuan itu tidak pernah tercapai. Dan terkadang itu membuat kita sedih, dan terpanggil untuk memperbaikinya. Rasa sedih, yang bisa saja itu berarti sinyal bahwa sesekali kita pun pernah berada dalam dimensi yang sama, pernah menjadi sesuatu yang  rusak. Hugo sangat memahami itu. Ia tidak akan membiarkan dirinya rusak&#8230;. kehilangan fungsi dan tujuan hidup.</p>
<p><a href="http://www.elmoudy.com/wp-content/uploads/2012/05/hugo03.jpg"  rel="lightbox-1735"><img class="aligncenter size-full wp-image-1750" title="hugo03" src="http://www.elmoudy.com/wp-content/uploads/2012/05/hugo03.jpg" alt="" width="572" height="239" /></a></p>
<p>Melalui percakapan dalam kesendiriannya itulah, Hugo tak pernah menyerah dalam menjalani kehidupannya yang tidak menentu. Ia memilih jalan takdirnya&#8230;untuk memperbaiki mesin tua itu. Walau ia tak sepenuhnya mengerti, untuk apa sebenarnya ia harus memperbaikinya. Ia hanya memiliki satu keyakinan, bahwa mesin itu memiliki fungsi dan tujuan kenapa ia hadir di hadapannya. Mungkin, mesin itu menyimpan rahasia tersembunyi yang akan membawanya pada satu muara hidup yang penuh petualangan, dan bisa mengubah perputaran semesta hidupnya.</p>
<p>Hugo Cabret seolah mengajak kita untuk memikirkan kembali perihal alasan mendasar kenapa kita ada di dunia ini. Karena setiap orang terlahir dengan fungsi dan tujuan yang unik, maka pilihan yang paling mungkin adalah melakukan hal kecil dengan penuh keyakinan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elmoudy.com/pesan-dari-hugo-cabret/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>myDark Angel</title>
		<link>http://www.elmoudy.com/mydark-angel</link>
		<comments>http://www.elmoudy.com/mydark-angel#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Feb 2012 14:06:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elmoudy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa Kesunyian]]></category>
		<category><![CDATA[dark angel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elmoudy.com/?p=1700</guid>
		<description><![CDATA[Aku mengembara jauh hingga waktu merobek celah keabadianku. Perjalanan yang seharusnya teramat panjang, dan menghabiskan waktu sangat lama, seolah hanya serasa di satu kedipan. Aku tak begitu yakin, bahwa kehidupan begitu mudahnya untuk dilalui. Dan jauh dari pandangan itu, pun aku tak begitu yakin bahwa rasa sakitku telah hilang dengan sendirinya. Aku coba memejamkan mata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://www.elmoudy.com/mydark-angel&amp;layout=standard&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe><p><a href="http://www.elmoudy.com/wp-content/uploads/2012/02/darke11.jpg"  rel="lightbox-1700"><img class="alignleft size-full wp-image-1701" style="margin: 0px 7px 7px 0px;" title="my dark angel" src="http://www.elmoudy.com/wp-content/uploads/2012/02/darke11.jpg" alt="" width="268" height="380" /></a>Aku mengembara jauh hingga waktu merobek celah keabadianku. Perjalanan yang seharusnya teramat panjang, dan menghabiskan waktu sangat lama, seolah hanya serasa di satu kedipan. Aku tak begitu yakin, bahwa kehidupan begitu mudahnya untuk dilalui. Dan jauh dari pandangan itu, pun aku tak begitu yakin bahwa rasa sakitku telah hilang dengan sendirinya. Aku coba memejamkan mata dan hanyut dalam atmosfer kegelapanku, mencari dimanakah rasa sakit itu…dan aku hanya menemukan kesendirian yang menyesaki rongga dada.</p>
<p>Aku tahu ini tidak akan ada akhirnya, dan setiap detik nafas yang terbuang tak mampu merubah ingatanku, terhadapmu. Ribuan pisau di sayapmu itu yang mencabik jantungku, dan walaupun itu sudah tertimbun jutaan materi gelap – toh tak mampu menghabisi bayangan gelapmu. Aku telah alami kematian yang tak terhitung dalam selubung mimpi…dan saat aku terbangun, engkau meninggalkan segala rasa sakit itu dan membunuhku kembali.</p>
<p>Segala cara kutempuh untuk menyembuhkan jiwaku, dan bangkit perlahan. Pernah dengan cara mencabik-cabik kesombonganku atau mematahkan cengkeraman egoku lalu menyerahkan jasadku pada serigala malam. Pernah juga dengan sedikit ritual, memejamkan mata dan meyakini bahwa  engkau pun melakukan hal yang sama…hingga kita terbebas dari segala kesedihan.</p>
<p>Para pujangga menulis syair-syair yang menyayat jiwa  &#8211; tatkala fase kehancuran itu ada, di situlah ada awal dari segala kehidupan. Mereka mungkin bisa keliru, karena ternyata kehidupan tak pernah bisa memberikan tanda perihal kedatangannya. Walau malam telah terganti siang, walau perjalanan rembulan telah digantikan matahari &#8211; tapi kehidupan tak pernah bisa menampakkan dirinya lalu menghentikan prosesi kehancuran.  Bisa jadi, yang ada hanyalah siklus keabadian, dimana kehidupan adalah fase kehancuran itu sendiri.</p>
<p>Mungkin, hatiku hancur. Karenanya segala kehidupan termaknai dalam kacamata yang hancur. Tapi benar dalam fase kehancuran itu, telah sanggup membukakan kilatan cahaya yang menerobos jantungku dan menuntun jalanku, ke arahmu. Aku bisa merasakan detak jantungmu lebih kencang, dan coba menggerakkan naluriku untuk mendekatimu…menyentuh wajahmu yang masih terlihat samar.</p>
<p>Kadang ku begitu yakin bahwa engkau ada di dalam hatiku yang hancur. Dan menolak keras, bahwa engkaulah yang membuat hatiku hancur.</p>
<p><span style="color: #e1e1e1;">________________________________________</span><br />
Inspired from <span style="color: #ff0000;">Evanescence</span> [<a href="http://www.evanescence.com/" target="_blank">My Heart is Broken</a>]<br />
<iframe width="450" height="253" src="http://www.youtube.com/embed/f1QGnq9jUU0" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elmoudy.com/mydark-angel/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tepi perbatasan, atau tepi pesimisme</title>
		<link>http://www.elmoudy.com/tepi-perbatasan-atau-tepi-pesimisme</link>
		<comments>http://www.elmoudy.com/tepi-perbatasan-atau-tepi-pesimisme#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 15:09:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elmoudy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sadar Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[tepi perbatasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elmoudy.com/?p=1664</guid>
		<description><![CDATA[Hingga malam ini, aku masih saja berada dalam situasi yang belum bisa kuyakini sepenuhnya. Selalu saja ada keraguan dalam menetapkan satu kepastian. Perihal peta jalan kehidupan yang benar-benar harus aku pilih. Beberapa hari yang lalu, di saat aku berada dalam tepian tapal batas antara Atambua dan Timur Leste, ada idealisme besar dimana aku terpanggil untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://www.elmoudy.com/tepi-perbatasan-atau-tepi-pesimisme&amp;layout=standard&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe><p><a href="http://www.elmoudy.com/wp-content/uploads/2011/11/elmoudy-2042.jpg"  rel="lightbox-1664"><img class="alignleft size-full wp-image-1670" style="margin: 7px;" title="elmoudy-204" src="http://www.elmoudy.com/wp-content/uploads/2011/11/elmoudy-2042.jpg" alt="" width="268" height="380" /></a>Hingga malam ini, aku masih saja berada dalam situasi yang belum bisa kuyakini sepenuhnya. Selalu saja ada keraguan dalam menetapkan satu kepastian. Perihal peta jalan kehidupan yang benar-benar harus aku pilih. Beberapa hari yang lalu, di saat aku berada dalam tepian tapal batas antara Atambua dan Timur Leste, ada idealisme besar dimana aku terpanggil untuk turut serta menarik tegas garis lintas batas antara 2 negara itu, lalu membantu penghidupan warga perbatasan. welewhh&#8230;</p>
<p>Kawasan perbatasan itu, dihuni ribuan warga yang minim air, listrik, jalan, dan makanan. Harusnya aku berani bermimpi, bahwa suatu kelak aku harus mampu mengubah nasib mereka. Tapi beberapa waktu yang lalu tak berapa lama kemarin, aku telah membenamkan mimpi-mimpi besarku karena aku lebih yakin dengan jalan setapak yang makin samar dan buntu. Aku ingin hidup dengan lebih sederhana, tanpa dibebani idealisme ataupun obsesi yang melelahkan. Tapi saat aku berdiri di titik tapal batas itu, idealisme menyemburat dan tampak percikan kecilnya.</p>
<p>Terasa sesak pandangan mataku, saat dalam perjalanan menuju titik pilar batas lainnya yaitu di Napan – Oecussi RDTL&#8230;terlihat segerombolan anak-anak kecil berjalan di pinggir jalan negara &#8211; dengan membawa seember air yang entah dari mana asalnya. Mereka suka selonongan ke arah tengah jalan tanpa takut tertabrak mobil atau truk. Yang jelas..itu air diambil dari tempat yang cukup jauh..dengan terik panas dan tanah cadas yang membakar. Mereka..anak-anak seusia 7 tahun..ada juga yang 5 tahun..bahkan 3 tahunan &#8211; membawa ember dengan tertatih. Seember air&#8230; menjadi pekerjaan rumah mereka.</p>
<p>Aku coba tersadar kembali dengan situasiku, dan aku tak ingin meneruskan cerita yang kurang nyaman di benak pikiranku ini. Bukan karena anak kecil dengan seember airnya, tapi karena aku tahu pasti dengan akhir cerita itu dimana aku takkan bisa berbuat nyata dengan cerita itu.</p>
<p>Aku masih dalam status kesangsian, hingga malam ini. Akankah aku terus berkhayal dan menulis tentang sesuatu yang nyata kemudian aku imajiner-kan? Akankah sebuah tulisan, itu memang benar adanya akan mampu mengubah nasib seseorang, masyarakat, atau bahkan sebuah peradaban? Akankah dengan mengejar mimpi-mimpi besar&#8230; akan benar menghadirkan keteladanan yang bisa tertulis dalam lembaran buku sejarah? Perlukah itu?  Atau haruskah naluri kekuasaan pantas untuk dituruti sementara setiap jengkal yang terengkuh selalu meninggalkan luka yang berdarah? Walau terkadang aku sadar dengan setengah sadar, bahwa aku terlalu melankolis dengan kehidupan ini.</p>
<p>Menulis, mungkin bisa membuat hidup lebih sederhana. Tak banyak konfrontasi, dan mungkin bisa hidup dengan semiliran angin di pinggir sawah. Terasa sangat mendamaikan, dan ringan bukan. Tapi kalau hanya dengan menulis, sepertinya tidak akan bisa mengubah apapun. Atau jadilah sosok superbody yang berani menegakkan kebenaran dan membasmi kebobrokan negeri ini. Bangkitkan negeri ini dan bersihkan dari para perampok uang negara. Tapi tak bisa diayal lagi tentu akan banyak konfrontasi dan  bahkan peperangan, dan berujung pada pesimisme. Atau jadilah pribadi yang nyaman, berpikiran lurus, tekun dalam bekerja, dan jadilah pengayom masyarakat. Tapi, pekerjaan macam apakah itu? Apa mungkin jadi kyai&#8230;guru&#8230;atau pak lurah ???</p>
<p>Aku perlu merenungi apa maksud kata Muse, “<em>don&#8217;t waste your time or time will waste you.</em>”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elmoudy.com/tepi-perbatasan-atau-tepi-pesimisme/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Spekulasi Kecil</title>
		<link>http://www.elmoudy.com/spekulasi-kecil</link>
		<comments>http://www.elmoudy.com/spekulasi-kecil#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Sep 2011 10:31:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elmoudy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sadar Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[spekulasi kecil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elmoudy.com/?p=1623</guid>
		<description><![CDATA[Semalem, 27 September 2011 pukul 20.30. Kusempatkan nonton acara Jakarta Lawyer Club dengan topik “Banggar” Dituduh, “Banggar” Mogok. Menarik, menegangkan, sekaligus menggelikan. Bagaimana tidak, banyak anggota DPR yang hadir di situ, dan terlihat merasa gerah n spanenk dengan diskusi itu. Perbincangan  yang mengarah pada tuduhan bahwa ‘mereka adalah biang koruptor’. Ya tapi itu wajar dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://www.elmoudy.com/spekulasi-kecil&amp;layout=standard&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe><p><a href="http://www.elmoudy.com/wp-content/uploads/2011/09/corr.jpg"  rel="lightbox-1623"><img class="alignleft size-full wp-image-1624" style="border: 0pt none; margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" title="koruptor" src="http://www.elmoudy.com/wp-content/uploads/2011/09/corr.jpg" alt="" width="268" height="380" /></a>Semalem, 27 September 2011 pukul 20.30. Kusempatkan nonton acara Jakarta Lawyer Club dengan topik “Banggar” Dituduh, “Banggar” Mogok. Menarik, menegangkan, sekaligus menggelikan. Bagaimana tidak, banyak anggota DPR yang hadir di situ, dan terlihat merasa gerah n <em>spanenk </em>dengan diskusi itu. Perbincangan  yang mengarah pada tuduhan bahwa ‘mereka adalah biang koruptor’.</p>
<p>Ya tapi itu wajar dan sangat bisa dimaklumi, mengingat seolah wibawa DPR dikoyak-koyak, dan seperti mau digiring masuk ke perangkap tikus. Wah ini permainan apa lagi… Gitu kira-kira yang ada di benak pimpinan dan sebagian anggota Banggar.</p>
<p>Baiklah…mari sedikit berspekulasi.</p>
<p>Spekulasi pertama, adalah sesungguhnya terjadinya ’pertempuran kecil’ perihal perimbangan faktor kesalahan antar partai yang berkuasa. Dalam hal ini, Partai Demokrat versus partai-partai lain seperti Golkar, PKS, PDIP, dst. Saat partai Demokrat menjadi sorotan terkait mantan Bendum menjadi tersangka kasus korupsi kelas kakap, maka diprediksi akan terjadi turbulensi permainan politik yang cukup kencang. Partai-partai lain, yang menjadi ‘musuh’ Demokrat satu sisi akan mengeruk keuntungan politis, tapi sisi lain harus siap-siap menghadapi tusukan-tusukan dari belakang. Pertempuran kecil akan makin seru. Saling membuka kesalahan..buka-bukaan borok korupsi&#8230;lalu saling menutupi dan terjadilah deal-deal untuk mengamankan posisinya masing-masing. Walau akan ada korban-korban kecil. Banggar, menjadi bola empuk yang siap untuk dimainkan. Semua partai sedang gerah-gerahan dan panik dengan kasus ini. Siapapun bisa menjadi tumbal.</p>
<p>PKS adalah partai yang cukup trauma dalam  menghadapi pertempuran kecil ini. Waktu itu kasus Bank Century.. ‘orang’ nya PKS yang jadi korban. Dan sekarang, mereka tidak mau itu terjadi lagi. PKS mencoba mengambil ‘kuda-kuda’  untuk tidak terjebak kembali pada perangkap yang serupa.  Untuk itulah…Banggar harus tegas menolak tempo permainan yang hendak dimainkan KPK.</p>
<p>Spekulasi kedua, strategi formasi supit kalajengking. Tidak mudah bagi KPK untuk menggiring sekawanan koruptor yang jumlahnya mungkin sangat banyak melebihi jumlah ‘pasukan KPK’. Seribu tikus mau ditangkap kucing yang jumlahnya cuman sepuluh. Apalagi tikusnya segede kucing. Kira-kira gitu analoginya.  Nah, formasi supit kalajengking mungkin cukup ampuh sebagai teknik menyerang untuk menaklukkan jumlah ‘musuh’ yang lebih besar, walaupun bisa saja gagal total. Tapi setidaknya akan ada beberapa ekor yang bisa tertangkap. Bisa jadi.</p>
<p>Bahwa si kalajengking seolah hendak memangsa sekawanan musuh yang ada di depan mata kepala kalajengking, tetapi sebetulnya kedua supitnya yang besar di sisi depan kanan-kiri yang sudah sangat siap merobek pertahanan musuh. Ditambah lagi senjata rahasia yang ada di ekornya yang siap meluluhlantakkan apapun. Siapa yang bisa lihat?? Tetapi bisa saja kedua supitnya jauh lebih beracun dan berbahaya dibandingkan gigitan gigi si kalajengking. Itu kalau kalajengking punya gigi. Si kalajengking bisa jadi tidak akan banyak bicara, pergerakannya lambat dan sedikit, tetapi akan sangat mematikan pada saatnya tiba.</p>
<p>Spekulasi ketiga, anak kecil rebutan tumpeng. Ini yang diutarakan Sujiwo Tejo, seorang Presiden Republik <em>Jiancuk</em> <em>(ouppss)</em>…yang selalu menginspirasi nalar sehat kita. Sebetulnya kita ini ngomongin apa? Korupsi..korupsi..korupsi… Kita ini kan saudara yang dilahirkan dari rahim ibu yang sama, ibu pertiwi Indonesia. Sesama anak bangsa kok saling menggerogoti..saling menjatuhkan..saling menghabisi. Apa nggak terpikir, kalau jangan-jangan..orang asing yang ada di luar sana sedang menonton dan menertawakan kita. Mereka, orang-orang asing itu yang, jangan-jangan sengaja  mengobok-obok negeri kita ini supaya selalu kisruh..selalu berantem..sengaja dibikin suasana yang selalu nikmat untuk makan kenyang lewat korupsi.</p>
<p>Indonesia ini jamrud katulistiwa, mutiara yang sangat istimewa, sangat kaya alamnya. Ya pastilah menjadi incaran negara-negara asing. Minyaknya, mineralnya, batubaranya, kebun sawitnya, hutannya, emasnya, tembaganya, semua ada di sini &#8211; dan mereka sangat mengincar itu.</p>
<p>Mungkin karena itulah, dibikin situasi yang chaos…kisruh…para pemimpin negeri ini dibikin bingung, bodoh..dan korup. Yaudah…habislah riwayat Indonesia. Apa nggak sadar kita ini…kapan ini akan berakhir…kapan kita bersatu padu untuk memperkuat negeri ini…bersatu melawan segerombolan bahkan konspirasi asing yang suka merampas kekayaan bangsa ini. Jangan saling rebutan tumpeng kecil untuk mengenyangkan perut sendiri lewat korupsi&#8230;kalau sejatinya nasi tumpeng yang lebih besar justru udah diserobot oleh mereka.</p>
<p>“Apa ndak nyadar2 kita ini???”….gitu kata Sujiwo Tejo. Yo mboohlaah&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elmoudy.com/spekulasi-kecil/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memulai Lagi</title>
		<link>http://www.elmoudy.com/memulai-lagi</link>
		<comments>http://www.elmoudy.com/memulai-lagi#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jun 2011 11:12:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elmoudy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Passion 4 Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elmoudy.com/?p=1611</guid>
		<description><![CDATA[Aku harus mulai yakin lagi, bahwa tak ada yang lebih menyenangkan selain menulis blog. Dua bulan lamanya, aku seperti tak punya waktu untuk menyentuh blog ini, atau memulai  beberapa kata untuk sebuah tulisan.  Ada banyak keinginan sebetulnya terkait dengan proyek menulis, tapi kepenatan waktu dan pikiran ternyata membuat semuanya berjalan tanpa ada kemajuan yang berarti. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://www.elmoudy.com/memulai-lagi&amp;layout=standard&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe><p><a href="http://www.elmoudy.com/wp-content/uploads/2011/06/mulai2.jpg"  rel="lightbox-1611"><img class="alignleft size-full wp-image-1613" style="margin: 0px 7px; border: 0pt none;" title="mulai2" src="http://www.elmoudy.com/wp-content/uploads/2011/06/mulai2.jpg" alt="" width="268" height="380" /></a>Aku harus mulai yakin lagi, bahwa tak ada yang lebih menyenangkan selain menulis blog. Dua bulan lamanya, aku seperti tak punya waktu untuk menyentuh blog ini, atau memulai  beberapa kata untuk sebuah tulisan.  Ada banyak keinginan sebetulnya terkait dengan proyek menulis, tapi kepenatan waktu dan pikiran ternyata membuat semuanya berjalan tanpa ada kemajuan yang berarti. Maksudku, aku selalu berkeinginan melatih ketrampilan menulis, tapi selalu gagal untuk aku pahami dengan baik.</p>
<p>Dan aku memulainya lagi. Lalu setiap kali bermaksud membaca apa yang melintas di pikiranku untuk aku rangkai dalam sebuah tulisan, aku tak menemukan apapun. Tapi sebetulnya cukup banyak ide yang terlintas, tepatnya abstraksi yang terlihat sempurna sekaligus misterius yang cukup membuatku terobsesi untuk mengejar ketertinggalan atas apa yang kuanggap sebagai mimpi besar. Kurasa, aku sedang tidak natural dalam menulis.</p>
<p>Melihat dan menuju ke kedalaman jiwa. Kurasa inilah jalan yang selalu ditempuh oleh para penulis. Dan aku pun akan melakukan hal yang sama. Semakin ke dalam, biasanya ada percikan api kebenaran yang membuat kita memahami tentang bagaimana mengenali sisi baik dari rasa kemanusiaan. Karena api itulah yang membuat kita pun merasa terpanggil untuk selalu berbuat dan berkarya secara nyata, dan memberi arti pada setiap perjumpaan dengan sesama. Dan biasanya dalam kondisi itu, naluri menulis bisa mengalir dengan baik.</p>
<p>Baiklah, bersiaplah untuk menatap sekeliling dengan lebih damai. Kehidupan baru yang hampir kulihat, antara masa lalu dan masa depan yang saling mengisi ruang kekinian. Dan dalam keheningan dan kesegaran yang tercipta dari olah meditasi hari ini, aku menemukan momen sebagai kekuatan murni yang mampu menata ulang kerusakan fisiologis dan psikologis, belakangan ini.</p>
<p>Seperti de javu yang selalu hadir dalam spiral kehidupan kita, pertanyaan mendasar muncul kembali tentang bagaimana hidup dimaknai ulang? Kenyamanan hidup tak pernah diketemukan dalam proyeksi inderawi, yang bisa dilihat dengan kasat mata atau dicecap oleh lidah kita. Tapi sebaliknya, ia adalah manifestasi  yang hanya menyala di dalam jiwa setiap kita. Di saat mata hati terbuka dan sanggup melihat kesederhanaan yang ada di sekitar kita. Saat itulah, kita nyaman dengan hidup.</p>
<p>Dan aku memang sedang memulai.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elmoudy.com/memulai-lagi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Biola Tak Berdawai</title>
		<link>http://www.elmoudy.com/biola-tak-berdawai</link>
		<comments>http://www.elmoudy.com/biola-tak-berdawai#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Mar 2011 04:52:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elmoudy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa Kesunyian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elmoudy.com/?p=1586</guid>
		<description><![CDATA[Tanpa dawai, bagaimanakah biola bisa bersuara? Biola bagaikan tubuh, dan suara itulah jiwanya &#8211; tetapi di sebelah manakah dawai dalam tubuh manusia yang membuatnya bersuara? Jiwa hanya bisa disuarakan lewat tubuh manusia, tetapi ketika tubuh manusia itu tidak mampu menjadi perantara yang mampu menjelmakan jiwa, tubuh itu bagaikan biola tak berdawai. Betapa lamanya waktu yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://www.elmoudy.com/biola-tak-berdawai&amp;layout=standard&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe><p><a href="http://www.elmoudy.com/wp-content/uploads/2011/03/biola-tak-berdawai.jpg"  rel="lightbox-1586"><img class="alignleft size-full wp-image-1588" style="margin: 0px 7px; border: 0pt none;" title="biola-tak-berdawai" src="http://www.elmoudy.com/wp-content/uploads/2011/03/biola-tak-berdawai.jpg" alt="" width="268" height="380" /></a>Tanpa dawai, bagaimanakah biola bisa bersuara? Biola bagaikan tubuh, dan suara itulah jiwanya &#8211; tetapi di sebelah manakah dawai dalam tubuh manusia yang membuatnya bersuara? Jiwa hanya bisa disuarakan lewat tubuh manusia, tetapi ketika tubuh manusia itu tidak mampu menjadi perantara yang mampu menjelmakan jiwa, tubuh itu bagaikan biola tak berdawai.</p>
<p>Betapa lamanya waktu yang kita butuhkan untuk memahami jiwa : pernah dipuja sembari  merendahkan tubuh hingga melahirkan para pertapa. Jiwa dipinggirkan sembari memuja tubuh hingga melahirkan para peraga. Ada kalanya tubuh dan jiwa tak terpisahkan yang berarti tubuh menjadi sahih sebagai cerminan jiwa, namun terlalu sering juga tubuh gagal menjadi cermin memadai bagi penampilan jiwanya.</p>
<p>Terlalu sering kita melihat kebalikannya: tubuh terindah untuk jiwa yang menyedihkan, jiwa terindah dalam tubuh yang memilukan – betapa berpengaruh penampilan sang tubuh dalam penilaian kita tentang jiwanya, dan betapa sering kita tersesat karenanya..</p>
<p>Jika saja engkau mendengar suara biola yang berbisik dan merintih di malam hari, apakah engkau mengira suara itu datang hanya karena gesekan tongkat bersenar kepada dawainya? Jika saja engkau mendengar suara biola yang meratap dan melengking di malam sunyi, apakah engkau mengira suara itu datang hanya karena ada tangan yang menggesekkannya? Dan jika saja engkau mendengar suara biola di tengah keheningan, tidakkah engkau mengira tangan yang menggesekkan biola itu menjelmakan nada-nada dari dalam jiwa?</p>
<p>Tetapi dari manakah datangnya nada-nada yang membentuk nyanyian dari dalam jiwa itu? Apakah nyanyian itu datang dari balik kegelapan dari sebuah semesta entah dimana? Mungkinkah nyanyian itu berasal dari kekelaman sang waktu yang mengiringi pengembaraan jiwa yang tersayat? Dan jika pada suatu waktu engkau tidak menemui nyanyian dari nada-nada itu, apakah engkau mengira  nada-nada itu lenyap, dan tiada satu pun biola memainkannya?</p>
<p>Karena nada-nada itu tetaplah ada meski kita tidak mendengarnya, selama kita masih berjiwa. Adalah jiwa yang menggerakkan tubuh, namun adalah hati yang membuat kita memiliki rasa di luar keinderaan kita. Karena tanpa hati kita bukanlah manusia, sedangkan hati adalah semesta nada-nada. Jiwa kita bagaikan lapisan-lapisan hati tanpa isi, yang mana apabila lapisan-lapisan itu dibuka satu per satu ternyata tak pernah ada habisnya. Setiap lapisan hati bagaikan suatu galaksi dalam semesta jiwa yang tiada bertepi. Dimana nada-nada dengan segenap sentuhannya mengembara dari sebuah jarak yang milyaran tahun cahaya jauhnya, hanya untuk menyapa kehadiranmu.</p>
<p>Setiap kali untaian nada menyentuh jiwamu, sebetulnya engkau terhubung dengan sebuah dunia dari hati yang berdenyar, dan tiada akan pernah berhenti berdenyar selama cinta membasuhnya. Hanya mereka yang mengenal cinta yang bisa mendengarnya, dan mengembangkan nada-nada itu di dalam jiwanya menjadi nyanyian yang menentramkan. Dalam semesta jiwa, nada-nada bagaikan kupu-kupu yang beterbangan mencari taman bunga cinta. Mereka tidak akan hinggap di hati yang membatu, karena bunga-bunga cinta berkembang dan mendenyarkan cahaya cinta yang menyemburat di ladang hati yang sarat kelembutan. Mereka mengumpulkan sari madu kemurnian untuk dipersembahkan kepada kita semua, manusia yang hampir kehilangan dawai bagi sang biola.</p>
<p><span style="color: #888888;">&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</span><br />
<span style="color: #888888;"><em>diadaptasi dari penggalan novel Biola Tak Berdawai karya Seno Gumira Ajidarma,<br />
berdasarkan film karya Sekar Ayu Asmara</em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elmoudy.com/biola-tak-berdawai/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>43</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keledai yang (ga terlalu) Malang</title>
		<link>http://www.elmoudy.com/keledai-yang-ga-terlalu-malang</link>
		<comments>http://www.elmoudy.com/keledai-yang-ga-terlalu-malang#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Mar 2011 07:04:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elmoudy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fabel]]></category>
		<category><![CDATA[keledai]]></category>
		<category><![CDATA[lubang]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elmoudy.com/?p=1541</guid>
		<description><![CDATA[Terkisah di negeri dongeng yang agak populer tapi sedikit dilupakan, ada seekor keledai yang seperti biasa berjalan dengan santai dan gontai..sesekali berjingkrak sambil bernyanyi-nyanyi. Keledai yang penuh semangat.. penyabar.. murah senyum.. dan tentunya tetap dungu. Mungkin mirip dengan keledai..sahabatnya Shrek di film Shrek itu. Heey&#8230;kenapa keledai jadi bintang film juga? Sepertinya keledai dan Shrek akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://www.elmoudy.com/keledai-yang-ga-terlalu-malang&amp;layout=standard&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe><p><a href="http://www.elmoudy.com/wp-content/uploads/2011/03/keledai.jpg"  rel="lightbox-1541"><img class="alignleft size-full wp-image-1543" style="border: 0pt none; margin: 0px 7px;" title="keledai" src="http://www.elmoudy.com/wp-content/uploads/2011/03/keledai.jpg" alt="" width="268" height="380" /></a>Terkisah di negeri dongeng yang agak populer tapi sedikit dilupakan, ada seekor keledai yang seperti biasa berjalan dengan santai dan gontai..sesekali berjingkrak sambil bernyanyi-nyanyi. Keledai yang penuh semangat.. penyabar.. murah senyum.. dan tentunya tetap dungu. Mungkin mirip dengan keledai..sahabatnya Shrek di film Shrek itu. Heey&#8230;kenapa keledai jadi bintang film juga? Sepertinya keledai dan Shrek akan terus bermain film sekuel yang ga ada abisnya. Ini terdengar sedikit aneh..kalau keledai itu sangat populer ternyata, tapi ya sudahlah. Aku sedikit kehilangan alur dengan kisah keledai yang mau aku dongengkan. Okey..kita mulai lagi dari awal.</p>
<p>Di suatu sore menjelang senja, keledai itu sudah diperingatkan sahabatnya kalau di depan sana ada kubangan sumur yang telah digali oleh orang-orang. Dalamnya beberapa meter. Keledai itu tertawa seolah ia menertawakan dirinya sendiri..karena sahabatnya yang terlalu sering ngerjain dan juga menertawakannya. Kali ini dia tak akan percaya dengan perkataan sahabatnya dan malah sambil berjingkrak-jingkrak berlari ngeloyor begitu saja. Atas berkat kedunguan dan keberaniannya yang egois itulah&#8230;keledai itu jatuh dan terjerembab benar di kubangan yang cukup dalam. Sahabatnya sudah ga ada entah dimana. Kakinya serasa patah..dan kepalanya kecedot hingga kayak mau pecah.</p>
<p>Keledai yang malang..udah dungu, bodoh lagi. Ia hampir ga percaya gimana ia bisa begitu bodoh, ada kubangan di depannya tapi ia ga melihat. Apa karena kakinya yang terlalu lincah..atau matanya yang terlalu jauh memandang ke depan, sampe-sampe lubang di depan mata ga liat. Bener-bener..bodoh. Tapi ya sudahlah..jangan terlalu menyalahkan keledai itu. Ia sudah ga bisa berpikir lagi tentang sebab musabab kedunguannya atau sebab musabab keterjatuhannya. Kali ini&#8230;ia benar-benar ga habis pikir..secara ia udah sulit berpikir. Atau malah ga bisa mikir.</p>
<p>Lama ia mencoba naik  keluar dari kubangan sumur itu..dan semakin kakinya coba naik di tebing-tebing kubangan sumur itu..ia selalu melorot. Ia coba terus..hingga lama ia coba naik..tapi gagal melulu. Ia hampir kehabisan tenaga..ia juga lapar. Sepertinya hari jg  udah mulai malam. “Keledai dungu, kenapa kau tidak teriak saja minta tolooong”. Begitu tiba-tiba suara batinnya berteriak. Ia kaget, oiya..teriak saja. “Tolooooooooooooooonggg”.. gitu teriakannya si keledai.</p>
<p>Kontan saja&#8230;ada beberapa orang yang mendengar lengking suara keledai yang cukup keras lengkingannya, dan sedikit parau. Orang-orang langsung berdatangan mengerubungi di atas kubangan sumur yang hampir gelap itu, dan melihat keheranan ada keledai malang yang bersembunyi di dalam kubangan. Dan lega-lah keledai itu, akhirnya ia diketemukan dan ia yakin mimpi buruknya segera berakhir.</p>
<p>Ia lantas melihat ke atas..beberapa orang seperti sedang memegang tali..kayu..sepertinya alat itu akan dipakai untuk menyelamatkannya. Ia sangat girang sekali. Tapi setelah ditunggu-tunggu..ternyata ga ada tali atau kayu yang menjulur ke arahnya.</p>
<p>Pas saat ia lihat lagi ke atas..ia justru melihat bongkahan-bongkahan tanah..bebatuan besar..terjun jatuh bebas ke arahnya. Buughh..gedebag gedebug..buggbungghh&#8230; Bongkahan-bongkahan tanah batuan itu menimpa punggungnya, dan ia kagetnya setengah mati. Ia mengumpat habis-habisan dengan tindakan gila orang-orang yang ada di atasnya itu. “Heii&#8230;kurang ajar, ini gila. Kalian mau menguburku hidup-hidup” gitu geram si keledai.</p>
<p>Dan orang-orang gila di atas sana itu terus menerus menjatuhkan beban tanah, bebatuan dan apapun namanya&#8230;tanpa ampun. Keledai malang itu pun berontak hebat..ia ga terima perlakuan itu. Ia kibaskan punggungnya yang hampir penuh terbenam tanah. Ia berusaha dengan kemarahan yang maksimal untuk mengibaskan apapun beban yang menimpa tubuhnya yang emang udah luka-luka. Bongkahan tanah n batuan yang semula ada dipunggungnya itu pun jatuh lengser ke dasar kubangan..dan begitu seterusnya. <em>Kubangan itu tentunya menjadi lebih dangkal. Tapi keledai ga peduli dengan kedangkalan kubangan itu.</em></p>
<p>Ia terus kibaskan punggung, kaki, kepalanya.. dan ga peduli apa maunya mereka yang tega-teganya mau membunuhnya. Ia hanya peduli dengan upaya penyelamatan diri jangka pendek. “Aku ga mau mati terkubur hidup-hidup” Gitulah yang jadi slogan hidupnya saat itu. Terusss ia bergerak, mengibaskan punggung, kaki, kepalanya..membebaskan diri dari sergapan bongkahan tanah itu. Dan tiba-tiba refleks keempat kakinya meloncat seperti sudah ada di atas tanah..keluar kubangan sumur. <em>Tanpa disangka-sangka oleh keledai tentunya.. kubangan sumur itu hampir penuh terisi bongkahan tanah.<br />
</em></p>
<p>Haahhh&#8230;ini ga bisa dipercaya. Ia sudah keluar dari kubangan, dan langsung berlari sekencang mungkin menjauh dari kubangan, dan dari orang-orang yang mau menguburnya hidup-hidup.</p>
<p>Ia berlari menuju semak-semak yang terlihat gelap, dan bersembunyi sambil mengintip siapakah gerombolan orang-orang yang hendak menguburnya itu. Ia pun berpikir, apakah mereka benar bermaksud membunuhnya, atau sebaliknya?</p>
<p>Ia hanya bisa linglung dengan peristiwa yang baru saja ia alami.</p>
<p><em><span style="color: #888888;">(di suatu malam &#8211; keledai pun berkontemplasi hingga menyadari, bahwa bongkahan tanah n bebatuan yg berjatuhan menyergap dirinya itu adalah bagian dari proses yg menguatkan jiwanya, yang membantu dan mengarahkannya untuk bisa merangkak naik hingga sampai puncak tujuannya</span></em><em><span style="color: #888888;">)</span></em></p>
<p><img src='http://www.elmoudy.com/wp-content/plugins/Luxboy-Smiley2/emoticon-0178-rock.gif' alt='&#121;&#95;' class='wp-smiley' width='16' height='16' title='&#121;&#95;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elmoudy.com/keledai-yang-ga-terlalu-malang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lelaki Penggenggam Hujan</title>
		<link>http://www.elmoudy.com/lelaki-penggenggam-hujan</link>
		<comments>http://www.elmoudy.com/lelaki-penggenggam-hujan#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Feb 2011 20:34:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elmoudy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mengurai Tanda]]></category>
		<category><![CDATA[himada]]></category>
		<category><![CDATA[kashva]]></category>
		<category><![CDATA[muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[persia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elmoudy.com/?p=1513</guid>
		<description><![CDATA[Persia. Kuil Sistan, 625 Masehi. 1.386 th yang lalu. Kashva, seorang pengikut setia ajaran Zarathustra adalah lelaki di ujung usia dua puluhan yang memiliki jiwa sebebas burung-burung. Imajinasinya menyentuh langit, sapuan tintanya sedalam palung samudera. Hatinya lembut oleh kasih, tetapi sikapnya kadang sekeras logam yang paling keras. Nama Kashva masyhur ke pelosok Persia dan menembus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://www.elmoudy.com/lelaki-penggenggam-hujan&amp;layout=standard&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe><p><a href="http://www.elmoudy.com/wp-content/uploads/2011/02/lelaki-penggenggam-hujan.jpg"  rel="lightbox-1513"><img class="alignleft size-full wp-image-1515" style="border: 0pt none; margin: 0px 7px;" title="lelaki-penggenggam-hujan" src="http://www.elmoudy.com/wp-content/uploads/2011/02/lelaki-penggenggam-hujan.jpg" alt="" width="268" height="380" /></a>Persia. Kuil Sistan, 625 Masehi.  1.386 th yang lalu.</p>
<p>Kashva, seorang pengikut setia ajaran Zarathustra adalah lelaki di ujung usia dua puluhan yang memiliki jiwa sebebas burung-burung. Imajinasinya menyentuh langit, sapuan tintanya sedalam palung samudera. Hatinya lembut oleh kasih, tetapi sikapnya kadang sekeras logam yang paling keras.</p>
<p>Nama Kashva masyhur ke pelosok Persia dan menembus negeri-negeri jauh. Julukan indah dihadiahkan kepada sang pemuda diamini oleh rakyat Persia. Sang Pemindai Surga, demikian ia dikenal dan dikenang. Bukan hanya karena dipercaya oleh Raja Persia untuk  mengelola kuil Gunung Sistan, tetapi atas wujud dedikasinya sebagai ahli mengamati bintang-bintang, membaca pertanda dari surga..dan ia seorang sastrawan yang dicintai.</p>
<p>Sehabis hujan, pagi itu Kashva duduk di sudut kuilnya&#8230;.dan di kedua tangannya ia memegang lembaran salinan surat Bahira, seorang pendeta Nasrani yang menuliskan pesan rahasia kepada Waraqah. Lembaran itu adalah perkamen kuno yang diperoleh dari sahabatnya bernama Elyas, Kashva memangggilnya El. Kemudian, terbisik ayat-ayat langit pada bibirnya. Kata-kata Zardusht, sang utusan Tuhan, “Takzim kami pada para pelindung Fravashes yang teguh, yang bertarung di sisi Tuhan. Mereka datang kepadanya laksana gerombolan elang perkasa. Mereka datang bak senjata dan perisai, melindunginya dari belakang dan dari depan, dari yang tidak terlihat..”</p>
<p>Kashva mengempas napas lalu berbisik pada dirinya sendiri, ”Fravashes..Himada.. Apakah ia orang yang sama? Lelaki yang kelahirannya telah lama diramalkan dalam gulungan-gulungan perkamen kuno. Sosok Maitreya yang memiliki tubuh semurni emas, terang benderang, dan suci. Dia datang untuk semua agama..semua manusia.”</p>
<p>Lama ia tertegun..lalu ia pun membuka lembaran surat  pendeta Bahira yang ada di tangannya..dan membacanya perlahan, untuk kesekian kalinya.</p>
<p><em>&#8220;Waraqah saudaraku,<br />
Penderitaan manusia telah sampai ke ujungnya. Alangkah beruntungnya dirimu yang masih muda dan bercahaya. Akan bertumbuh di kotamu yang terpandang, seorang manusia pilihan Tuhan. Rahasiakanlah ini, sebab Tuhan mengkawal rencananya dengan rahasia-rahasia. Himada telah datang..dan engkau sungguh terpilih karena akan menyaksikan bagaimana oleh Tuhan dia disempurnakan.</em></p>
<p><em>Aku sudah terlalu tua dan kupikir saat Himada telah siap melakukan tugasnya, aku sudah tiada. Maka, kuberi tahu dirimu kabar gembira ini agar engkau menjadi saksi kelak ketika ketetapan Tuhan berlaku kepada sang utusan yang mulia.</em></p>
<p><em>Namanya berarti Yang Terpuji, dan dia lahir dari kalangan saudaramu. Hari ini aku membuktikan kebenaran nubuat yang kita bincangkan bertahun-tahun belakangan. Dia benar-benar telah datang.&#8221;</em></p>
<p>Kashva berusaha membacanya sekali lagi, dan lebih pelan, seperti sedang mencari sesuatu dalam tulisan surat itu. Ia sedang mencari tahu siapakah lelaki yang dimaksud itu. &#8220;Himada..siapa dia?&#8221; Ada yang mengkristal di benak Kashva seketika. Hasrat dalam diri Kashva sudah tak terbendung lagi. Keinginannya untuk mencari dan bisa bertemu lelaki itu demikian besar hingga tak ada sesuatu pun yang membuatnya jerih. Bahkan maut yang mengintai dari ujung pedang tentara Khosrou tak juga menyurutkan kerinduannya bertemu dengan lelaki itu. Ia harus meninggalkan Persia. Kashva berencana menelusur Jazirah Arab, India, Barrus, hingga Tibet.<br />
&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p>Konon terkisah, Himada&#8230;Fravashes.. atau Astvat-ereta, adalah lelaki penggenggam hujan. Sosok yang dipilih oleh Tuhan untuk menggenggam wahyu-Nya. Wahyu yang pada setiap kehadirannya menyerupai hujan yang turun dari langit&#8230;menyebar di segenap penjuru muka bumi, dan hanya manusia yang dijanjikan yang mampu menggenggamnya. Dan pada masa yang telah ditentukan&#8230; 1.440 tahun yang lalu, ia terlahir dengan nama Muhammad.</p>
<p><span style="color: #888888;">&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..<br />
resensi / rangkaian kutipan buku novel Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan, karya Tasaro GK.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elmoudy.com/lelaki-penggenggam-hujan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Waktu Bagaikan Pedang</title>
		<link>http://www.elmoudy.com/waktu-bagaikan-pedang</link>
		<comments>http://www.elmoudy.com/waktu-bagaikan-pedang#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Feb 2011 18:48:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elmoudy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mengurai Tanda]]></category>
		<category><![CDATA[pedang]]></category>
		<category><![CDATA[waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elmoudy.com/?p=1452</guid>
		<description><![CDATA[Kecerdasan seperti apakah yang mampu berkelit dari libasan waktu. Kekuatan macam apakah yang mampu mematahkan libasan waktu. Kebijaksanaan manakah yang sanggup menghentikan libasan waktu. Waktu..tak pernah mau memberi kesempatan cukup pada kita, untuk bisa tidur tenang lalu terbangun dengan santai. Secepat itukah waktu menelan keseharian kita. Secepat itukah waktu menggerus masa muda kita. Sekejam itukah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://www.elmoudy.com/waktu-bagaikan-pedang&amp;layout=standard&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe><p><a href="http://www.elmoudy.com/wp-content/uploads/2011/02/waktu-pedang.jpg"  rel="lightbox-1452"><img class="alignleft size-full wp-image-1454" style="border: 0pt none; margin: 0px 7px;" title="waktu-pedang" src="http://www.elmoudy.com/wp-content/uploads/2011/02/waktu-pedang.jpg" alt="" width="268" height="380" /></a>Kecerdasan seperti apakah yang mampu berkelit dari libasan waktu. Kekuatan macam apakah yang mampu mematahkan libasan waktu. Kebijaksanaan manakah yang sanggup menghentikan libasan waktu. Waktu..tak pernah mau memberi kesempatan cukup pada kita, untuk bisa tidur tenang lalu terbangun dengan santai. Secepat itukah waktu menelan keseharian kita. Secepat itukah waktu menggerus masa muda kita. Sekejam itukah waktu memaksa kita untuk mengakhiri petualangan masa kanak-kanak kita. Dan tiba-tiba usia kita tinggal separuh..atau malah tinggal seperempatnya mungkin. Dimanakah kita saat itu selama puluhan tahun waktu berlalu begitu saja. Kemana sebetulnya waktu akan membawa kita, selain pada kematian. Adakah semacam taruhan takdir..agar setidaknya kita bisa sedikit berharap cemas untuk bisa berkelit dari libasan waktu.</p>
<p>Jika sudah begitu, kenapa masih saja kita terlalu serius untuk saling menghakimi, melukai, atau bahkan menghabisi kesempatan hidup pihak lain. Dan jika memang segala jerih payah atas nama kemaslahatan, kemuliaan, atau sabda  Tuhan lantas membuat kita sendiri terkungkung oleh kebencian dan kemarahan, apakah itu artinya kemenangan telah ada dalam genggaman. Bukankah kita semua terhimpit dalam jebakan waktu, sehingga sekejap saja tangan kita bisa berlumuran darah dan rasa nyeri serasa membakar rongga dada kita. Benarkah kita bahagia dengan darah yang tercecer itu, atau puas dengan bara api yang memberangus ratap tangis anak-anak. Kenapa begitu bodohnya kita harus membuat luka pada siapapun yang tak seharusnya kita lukai. Benarkah segala perilaku dan pikiran kita itu di bawah kendali kita sepenuhnya.</p>
<p>Bukan saatnya pula menilai benar atau salahnya suatu tindakan, karena kadar keilmuan kita yang terlalu sedikit untuk pantas menilai. Kebodohan masih menjadi hak milik kita, kesombongan masih menjadi selimut hidup kita sehari-hari, serta keberanian yang egois terkadang menjadi moral tindakan kita. Tak perlu kiranya mulut dan mata kita berargumentasi tentang arti kebenaran yang universal, karena semua itu adalah niatan hati yang telah terpecah oleh libasan waktu.</p>
<p>Waktu bagaikan pedang. Apapun akan lapuk, siapapun akan tergerus. Begitu tajamnya waktu, sehingga bumi dan langit sekalipun takkan mampu menahan tebasan pedangnya. Mereka pun bisa luluh. Tetapi Tuhan pastilah selalu memberi penawar atas teka-teki yang ia sodorkan itu. Tuhan bersumpah, &#8220;Demi waktu&#8230;sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali mereka yang punya iman, berbuat kebaikan, memberi nasehat tentang kebenaran dan kesabaran.&#8221; Tafsiran yang mengemuka mungkin, bahwa rangkuman isi pesan Tuhan itu terbungkus oleh lorong waktu yang bernama kesabaran. Dan nasehat adalah percakapan hati yang mengisi waktu kita sepanjang masa. Karena esensi nasehat adalah kata..atau ayat cinta yang menguatkan iman. Begitulah Tuhan berusaha menuntun jawaban atas teka-tekinya dengan penuh keyakinan, kepada kita.</p>
<p>Walaupun kita tahu itu, tapi anehnya memang hidup tetap begini saja. Mungkinkah, Tuhan bisa saja salah memberi ekspektasi berlebih atas kapasitas kita. Mungkinkah, Sang Pemilik Waktu itu bisa terkecoh oleh kelihaian kita dalam menegosiasi soal waktu. Karena sesungguhnya penawar yang Dia berikan ternyata tak pernah mampu teraktualisasi di tempat kita hidup. Kalau dipikir-pikir secara lebih realistis, kita selalu menjadi obyek merugi dalam urusan waktu. Kita pikir, waktu adalah uang. Kita pikir, waktu adalah pahala. Kita pikir, waktu itu sekarang. Faktanya, waktu telah merampas kekinian kita. Waktu selalu mengikis hakekat hidup kita. Waktu justru membenamkan jati diri kita. Waktu membuat kita lupa siapa kita.</p>
<p>Entahlah..ini hanya kata. Kita hanya berkata-kata..hanya bisa mengolah kata seolah seperti sastrawan gila yang sedang meniru cara Tuhan memainkan kata. Seperti burung beo yang pandai meniru kata, tapi dungu soal makna. Kita tak pernah tahu pasti apa yang sebenarnya kita katakan. Dan bila&#8230;bila saja masih ada waktu untuk meluruskan kata-kata.</p>
<p><em><span style="color: #888888;">p.s : keterpecahan nalar ini bukanlah akibat perlawanan atas waktu.<br />
hanya kebodohan semata.efek ngopi dan sulit tidur.<br />
tertulis lewat tengah malam : 09/02/2011 01:11</span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elmoudy.com/waktu-bagaikan-pedang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tron : Legacy</title>
		<link>http://www.elmoudy.com/tron-legacy</link>
		<comments>http://www.elmoudy.com/tron-legacy#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Dec 2010 08:48:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elmoudy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[grid]]></category>
		<category><![CDATA[tron legacy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elmoudy.com/?p=1431</guid>
		<description><![CDATA[Grid. Sebuah perbatasan digital. Aku mencoba menggambarkan arus bit informasi yang bergerak pada layar komputer. Seperti apakah mereka? Kapal..sepeda motor. Dengan sirkuit seperti jalan raya yang bebas hambatan. Aku terus memimpikan dunia yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Dan kemudian, pada suatu hari&#8230;aku masuk ke dalamnya. Grid. Sebuah lingkungan virtual dimana saat aku masuk ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://www.elmoudy.com/tron-legacy&amp;layout=standard&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe><p><a href="http://www.elmoudy.com/wp-content/uploads/2010/12/quorra.jpg"  rel="lightbox-1431"><img class="alignleft size-full wp-image-1433" style="border: 0pt none; margin: 0px 7px;" title="quorra" src="http://www.elmoudy.com/wp-content/uploads/2010/12/quorra.jpg" alt="" width="268" height="380" /></a>Grid. Sebuah perbatasan digital. Aku mencoba menggambarkan arus bit informasi yang bergerak pada layar komputer. Seperti apakah mereka? Kapal..sepeda motor. Dengan sirkuit seperti jalan raya yang bebas hambatan. Aku terus memimpikan dunia yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Dan kemudian, pada suatu hari&#8230;aku masuk ke dalamnya.</p>
<p>Grid. Sebuah lingkungan virtual dimana saat aku masuk ke dalamnya terasa gelap, kelam, mendung.. dengan pendaran-pendaran neon biru laut yang terang, kilauan sinar laser yang futuristik dan spektakuler. Yang mana ada sebuah permainan..tepatnya pertarungan cakram pada arena grid kaca. Atau balapan pacu lightcycle dengan sirkuit pita cahaya yang cepat dan membahayakan. Sangat menyenangkan sekali. Sebagaimana komposisi grid pada layar komputer&#8230;ia adalah sebuah model terain piksel yang bergelombang, bertingkat..dengan landasan permukaan yang datar dan tanpa batas. Aku merancang dan mendesain sistem Grid&#8230;dengan beberapa algoritma genetis dan teleportasi kuantum.</p>
<p>Aku pun menciptakan sebuah program yang aku namakan dengan Clu (Codified Likeness Utility), sebuah program sebagai duplikasi diriku yang aku tugaskan untuk terus berada di dalam Grid, menyempurnakan sistem hingga sampai pada titik maksimum. Satu lagi adalah Tron, sebuah program yang aku ciptakan untuk menjaga Grid dari kekacauan. Kami bertiga : aku, Clu, Tron &#8230; membangun sebuah kota megapolitan yang kami namakan..Tron City.</p>
<p>ISO : Algoritma Isomorfis. Sebuah program yang tercipta dengan sendirinya di dunia Grid. Ia tidak seperti Clu ataupun Tron yang aku ciptakan untuk misi tertentu. ISO adalah sebuah keajaiban.. seperti api yang menyala tanpa diketahui darimana berasal. Layaknya bunga yang lahir dari tanah yang terbengkalai. Mereka adalah entitas program bio-digital yang hidup dan eksis tanpa bisa diketahui siapakah yang menciptakannya dan untuk misi apa ia berada di dunia Grid. Organisme virtual yang memiliki struktur biologis yang mirip dengan manusia, tapi ia berada di dunia Grid. Semacam DNA Digital..mereka memiliki keturunan yang membentuk sebuah komunitas besar yang memiliki keunikan gen dan identitas yang berbeda. Mereka adalah program yang tidak dikenali..atau bisa jadi mereka lebih sempurna dibandingkan dengan program-program yang aku ciptakan.. lebih baik daripada Clu atau Tron. Dan aku menyadari..bahwa tidak ada yang namanya kesempurnaan.</p>
<p>Atas alasan itulah, Clu marah dan mengkhianatiku. Ia bahkan membunuh Tron. Ia tidak terima dengan kehadiran ISO&#8230; dan menganggap mereka adalah sekumpulan program cacat ..tidak sempurna&#8230; dan layak untuk dibersihkan. Grid adalah sistem yang sempurna dan tidak boleh ada ketidaksempurnaan di dalamnya. Clu merasa telah bersusah payah menciptakan sistem Grid..dan ia ingin semua program yang hidup di dunia Grid berada pada tingkat kesempurnaan. Clu berusaha melakukan pembersihan sistematis, menghabisi  ras ISO dengan sadis&#8230;semacam Genosida. Aku pun berusaha menghindar dan mengasingkan diri di wilayah Outlands. Dan satu-satunya ISO terakhir yang bisa aku selamatkan&#8230;bernama Quorra.</p>
<p>Quorra. Sosok Algoritma isomorfis terakhir.. yang selamat dari upaya Genosida yang dilakukan oleh Clu. Ia seorang gadis yang baik. Kini ia bersamaku..dan satu-satunya sosok yang setia menemaniku hidup di pengasingan digital. Ia tahu tentang makna penyingkiran diri dari persamaan. Ia adalah murid terkasih yang hidup dari jiwa yang lelah. Aku membagi pengetahuan kepadanya tentang apa saja yang hidup di dunia nyata.  Aku ceritakan tentang matahari terbit.. udara yang segar.. langit biru..tentang semua hal yang membuat kita merindukan untuk segera kembali ke sana. Dan aku tahu ia pun ingin sekali melihat dunia nyata&#8230; terobsesi untuk menerobos portal untuk bisa keluar dari lingkungan Grid.</p>
<p>Tapi aku tetap harus berada di sini&#8230; di sebuah pengasingan digital.</p>
<p><span style="color: #888888;">&lt; to be continued &gt;</span></p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="100%" height="81" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://player.soundcloud.com/player.swf?url=http%3A%2F%2Fapi.soundcloud.com%2Ftracks%2F7516367&amp;show_comments=false&amp;auto_play=true&amp;color=00d7ff" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="100%" height="81" src="http://player.soundcloud.com/player.swf?url=http%3A%2F%2Fapi.soundcloud.com%2Ftracks%2F7516367&amp;show_comments=false&amp;auto_play=true&amp;color=00d7ff" allowscriptaccess="always"></embed></object> <span><a href="http://soundcloud.com/vission-music/daft-punk-the-grid">Daft Punk &#8211; The Grid</a> by <a href="http://soundcloud.com/vission-music">vission music</a></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elmoudy.com/tron-legacy/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>55</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

