Cacing itu

Seorang Biksu Buddha berkebangsaan Inggris, bernama Ajahn Brahm mengajariku tentang  cacing tanah. Cacing.. iya cacing. Ajarannya ini langsung mengingatkanku dengan kisah seruku waktu kecil. Dulunya, aku suka ke pekarangan belakang rumah, ada tanah agak becek, berwarna hitam lumpur, gembur, dan jorok. Pikirku, di sana pastilah banyak cacing. Lalu dengan cangkul kecilku, aku gali-gali tanah itu dan…. dapat cacingnya. Kutarik tubuhnya dari tanah itu, mengeliat-geliat, lalu kucincang kecil-kecil. Abis itu, kutusukkan ke kail pancing. Hehee.. saatnya mancing.

Kini, cacing itu muncul lagi dalam bentuknya yang beda. Cacing itu tersenyum bahagia di atas kotorannya. Tentu saja aku gak habis pikir, kenapa bisa begitu. Sekelebat jawaban singkat mengatakan bahwa cacing itu adalah diriku. Whaat?? Ini gak bener.. bagaimana mungkin cacing yang kucincang itu adalah diriku. Bagaimana ia bisa menemukanku di sini. Itu sudah lama sekali. Tidaak, ini pasti salah.

“Mau  percaya atau tidak, yang jelas ia sudah ada di dalam benakmu.” Begitu kata teman di sebelahku. Tiba-tiba, diriku terdorong ke belakang dan terpelosok ke dalam sebuah lubang kecil.. masuk ke lubang cacing, di dalam tanah. Aku… jadi cacing. Tak ada yang perlu disesali Mod. Tahun kemarin, kamu adalah tupai yang suka lari kesana kemari, tengak tengok kanan kiri gak jelas, dengan nafasnya yang ngos-ngosan.  Lalu saat kamu meloncat dari dahan ke dahan, kamu terjatuh dan terjerembab ke tanah. Sakit rasanya Mod. Bahkan rasa sakitmu waktu itu, sudah membunuh semua rasa akan kehidupan ini. Sehingga kau tak bisa merasakan apa-apa lagi, tak terkecuali rasa sakit itu.

Sekarang, kamu terlahir kembali. Kini, tahun ini.. kamu adalah cacing. Kamu tahu Mod, cacing tak perlu banyak berulah, tak usah banyak omong. Ia cukup mengikuti kemana hati membawanya. Karena ia tak punya apa-apa. Ia tak punya kaki untuk menginjak tanah, ia tak punya tangan untuk menyentuh raganya, ia pun tak punya kepala sehingga ia tak punya alasan untuk membanggakan dirinya. Karena itulah, ia lebih suka hidup di dalam tanah. Bergumul dengan kotoran dan lumpur. Dalam gelap dan kesendiriannya.

Cacing itu tak akan pernah sanggup menjangkau apa yang ia inginkan. Jelas ia ingin bisa terbang seperti burung itu sehingga tampaklah pesona keanggunannya.. tapi sepertinya ia takut ketinggian. Ia juga terkadang ingin seperti semut yang bisa merayap ke atas pucuk pepohonan. Tapi sepertinya.. ia takut terpeleset. Ia juga terkadang ingin seperti kambing yang bisa menyantap hidangan segar rerumputan hijau. Tapi.. lagi lagi ia takut. Ia takut melukai apapun yang ia sentuh. Keinginan dan obsesi yang mengisi ruang batinnya, hanyalah bualan omong kosong.  Sejatinya, cacing itu tak lebih dari batang kayu yang menggeliat. Lalu untuk apa ia bertahan sekuat tenaga untuk merengkuh sosok yang ia inginkan. Toh.. tak ada satu pun makhluk di muka bumi yang mengerti dengan upayanya itu.

Cacing itu hanya ingin sendiri. Tak perlu ada simpati atau perhatian apapun yang seolah-olah ingin memberikan kebahagiaan untuknya.  Dalam memahami kehidupannya, cacing itu hanya bisa meyakini satu hal, bahwa ia cukup dengan dirinya sendiri. Jika ia ingin merasa beda, ia cukup melepaskan daya imajinasinya – seolah-olah ia berada di atas pelataran jagad raya, sehingga ia bisa melepas kepenatannya dan merasa sangat bebas,  menikmati gugusan bintang-bintang dengan leluasa. Tapi kadang juga, bahkan seringkali cacing itu hanya mampu menyadari keberadaannya, terhimpit dalam lubang sempit di dalam tanah yang bau dan gelap. Ia cukup melakukan kebiasannya, bergumul dengan lumpur, dan menggemburkan tanah dimana ia ada. Mungkin, itu bisa memberi manfaat bagi pihak lain.

Ia tak harapkan apapun, dan jangan harapkan apapun dari cacing itu.

Cacing itu selalu terhibur dengan lagu ini, di setiap fajar menyapa tidurnya.

Ku teringat hati
yang bertabur mimpi
kemana kau pergi, cinta

Perjalanan sunyi
yang kau tempuh sendiri
kuatkanlah hati, cinta

Ingatkan engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu
sebelum cahaya

Ingatkan engkau kepada
angin yang berhembus mesra
yang kan membelaimu, cinta

………………………………………………..
Terinspirasi dari buku Ajahn Brahm berjudul cacing dan kotorannya.
Juga lagu Letto, sebelum cahaya.

 


52 Responses to “Cacing itu”

  1. Eka JaHe says:

    waaaakh, penuh dengan bahasa kiasan. butuh waktu buat artiinnya. but, it’s a greate posting, keep moving on…..

  2. rose says:

    rose hanya knal letto ajah ga kenal si empunya buku…~_~
    cacing juga bermanfaat loh Moud… utk keseimbangan alam.. :-P

  3. sunflo says:

    kalu aq pingin jadi manusia ajah Moud…:_:
    indah sualnya.. sualnya lagi aq jijay ama yang panjang2 gtu apalagi ama snake… hiiiiiiii~_~

    heeiii ini komen sunflo… kenapa diserobot ma rose??!!~_~|_|

  4. sunflo says:

    hmmm untungnya moudy bijak dech terhadap accident ini .. thx |_|

  5. elmoudy says:

    hehhee.. makanya jgn suka jijjayy ama cacing :_:

  6. zhie says:

    zhie jijik sama caciiing :((:#

  7. ismi says:

    panjang boneng Moud????
    haduh…kata2nya tinggi pulak ^x^ ~,~ ~,~ ~,~ ~,~

  8. ceuceu says:

    saya teringat akan filosofi cacing.. saya lupa isinya apa, yang pasti filosofi cacing itu sangat indah…

    ia seperti binatang tak berguna padahal jasanya sungguh luar biasa.. menggemburkan tanah dengan kotorannya.. dan dari tanah itu tumbuh berjenis-jenis pohon, bermanfaat bagi manusia dan semua makhluk yang berpijak di atasnya…

  9. kyaine says:

    El, sdh baca buku “Horeee! Guru Si Cacing Datang” blm? buku ini memuat cerita-cerita kocak dari Ajahn Brahm

  10. sitopatop says:

    jd inget cacing deh…. panjang+licin. ~_~

    btw, baru tau cacing ga punya kepala.. |_|

  11. yanrmhd says:

    cacing oh cacing…
    banyak yang jijik padamu, tapi kau pasrah pada keadaanmu, namun salau buat cacing…dgn keadaanya ia sanggup memberi manfaat yang besar… ^.^

  12. Afif says:

    cacing binatang yg menggelikan :)

  13. Masdin says:

    Tidak ada yang tercipta dengan sia-sia… termasuk cacing :)

  14. elmoudy says:

    ceuceu,, iya spakaat cee.. lagi belajar jd cacing yg baek neh hehee…
    kyaine,, kalo yg itu blm baca Gus.. pengen jg ktemu langsung ama beliau.

  15. lita says:

    seingatku (kalo aku ga salah ingat), dulu kamu pernah mengatakan padaku kalo aku berkepribadian ganda,terpecah.tapi akhirnya kunikmati saja apa yang sedang terjadi dengan diriku.yah sampe Rima pun menangis katanya dia tidak mengenalku(saat itu).terpikir untukku jadi apa saat ini pun tidak ada.

  16. elmoudy says:

    lita,, tkadang kita memang ga bs memahami apa yg terjadi dg diri kita. saat keterjatuhan kt dlm titik terendahnya.. saat itulah biasanya Tuhan memberitahu kemana langkah hidup kita harus mengarah. pelan2 kita mulai mengerti rencana Dia.. walo masih samar n ragu kita utk mempercayai arah yg Dia berikan itu. tp ga ada pilihan lain kecuali mempercayai-Nya. hingga akhirnya kita meyakini.. benar-benar yakin bahwa Dia slalu bersama kita, Dia ada di dalam hati kita yg paling dalam. n pd titik tertentu… Dia menjadikan kita menjadi ‘sosok’ yg bernilai, sosok yg ga pernah kita bayangkan sbelumnya. :)

  17. asepsaiba says:

    Dari tupai menjadi cacing… jauh amat ya bedanya… :)

  18. kikakirana says:

    Cacing? apa salahnya menjadi cacing…
    bahkan mungkin cacing lebih bagus dari burung yang bisa terbang tinggi itu..
    lebih hebat dari semut yang bisa sampai di pucuk dahan itu…

    bagus bahasanya :D

    HIDUP!!! ^_^

  19. delia says:

    Bahasanya eeuuyy mantap abis..
    Tak ada makhluk dibumi ini yang sia2…
    cacing itu banyak gunanya…. :) dan banyak hal yang kita pelajari dari seekor cacing..

    makasih sharingnya

  20. yayat38 says:

    Kekuatan bahasa elmoudy menuntun kehebatan cacing …… saluut
    Trims.
    Salam hangat selalu :)

  21. Mas Muody , cacing itu walaupun hanya hidup dlm gelapnya bawah tanah yg berlumpur,
    justru dia mampu menyuburkan tanah , jelas sangat bermanfaat keberadaanya bagi manusia.

    mau juga jadi cacing, yg ternyata memberi manfaat.
    salam

  22. antokoe says:

    setiap berkunjung kesini, selalu terkesima dengan ungkapan bahasanya. penuh inspiratif

  23. Mas Anto says:

    maknanya dalam dan inspiratif

  24. tary says:

    senangnya jika bisa menjadi cahaya utk orang lain, hidup bisa berbagi dan melengkapi. inspiratif mas moud.
    oya berkunjung ya ke rumahku yg baru, aku pindah rumah loh, dan ijinin juga tukeran link lagi

  25. wi3nd says:

    hayy imauuuuuuwww… :)

    hemmm..aku disu9uhi cacin9 ternyata,you know imauw,aku tuch takut sama cacin9,tapi berhadapan terus den9an cacin9,maklumlah dihutan,hin99a akhirnya mau tak mau bertemanlah den9an dia,meski 9eli :D

    tapi aku takkan membiarkan dirimu sendiri imauw,kapan kapan kita mancin9 baren9 yah,dan ajari aku untuk mencincan9 cacin9 dan memasukkan ke kail ..** hwaa..bisakah aku*

    keren imauw.. :sip:

  26. zee says:

    Mod,
    Sorry kali ini gue fast reading. Gue jijik ama cacing.. Huek :(. Jadi ga sanggup gue bacanya..

  27. hanifilham says:

    jadi pengennya gimana? jd cacing tuh? hehe. :_:

  28. putrie says:

    |_|
    bahasanya..
    membuat takjub….

  29. ossmed says:

    setuju..jadilahyang pertama
    mampir dong
    penyakit GO:yang menular melalui hubungan seksual

  30. srex says:

    cacing yg punya prinsip yaa….
    mau di bilang apa juga, ‘dia’nggak peduli, toh dunianya nggak akan bisa dinikmati oleh yg lain…di rusak bisa, tapi kan ‘dia’ gampang cari n bikin “dunia-nya yg baru”….sip..siiippp…..

  31. hakim says:

    kirain cacingnya untuk makan bebek…~_~~_~

  32. cacing apaan nih, mas moudy, kok suka banget dengan lagu2 semacam itu, hehe … bahasanya bersayap, tapi mantab!

  33. tata says:

    saat ini aku merasa sbg cacing,,namun belum sehebat perjalan tupai..
    ini soal,,
    dlm gelap bawah tanah,,dan enggan berkejaran.

  34. elmoudy says:

    tata,, kalo gitu… ayooo gemburkan tanah itu..
    slalulah bergerak.. walo dalam gelap bawah tanah..

  35. monda says:

    penuh perlambang mesti hati2 bacanya

  36. zee says:

    Moud,
    menggemburkan tanah justru kewajiban kita juga agar cacing di dalam bisa sehat dan gemuk. Kalau cacing sehat, tanah bisa makin gembur. Saling melengkapi namanya.

  37. elmoudy says:

    zee,, hahaa… iya. spakat Zee.. seneng rasanya kl liat tanah itu gembur n subur :()

  38. zenteguh says:

    buku yang bagus mas. khas ajahn brahm..
    jika saya cacing, saya hanya takut sama pemancing..:D

  39. Widi says:

    Wah sama bacaan kita, buku yang seru…
    Mau bedah buku bareng?hahahha…

  40. elmoudy says:

    zenteguh,, hihiii… nyindir gw wektu kecil yaa.. senjata makan tuan :)
    Widi,, weleeuh… kok bisa ya Wid. sama2 mo jd cacing neh xixiii

  41. andipeace says:

    cacaing hanya makan makanan yang dibutuhkan,sedangkan manusia…makan makanan apa aja :D sepertinya rakusan manusia daripada cacing mas..

    salam dem ayem

  42. ismi says:

    masi cacing mulu mod???^.^

  43. Pink says:

    Cacing…
    Binatang yang sangat sederhana dan memiliki kehidupan yang nggak serumit kehidupan manusia.
    Tapi kalo inget tampangnya.. Hii… Ngeri. *phobia cacing.
    Salam kenal.

  44. Pink says:

    Cacing…
    Binatang yang sangat sederhana dan memiliki kehidupan yang nggak serumit kehidupan manusia.
    Tapi kalo inget tampangnya.. Hii… Ngeri. *phobia cacing.

  45. yangputri says:

    bang moudy… suka sama cacing ya..??

  46. tulisannya sastra abiiiis.. hehe

  47. tommy says:

    agak susah ngartikannya, soalnya banyak kata-kata kiasan :D

  48. Yustha tt says:

    Kupikir mau ngomongin biologisnya cacing, tnyta filosofisnya to? Keren bang moud…

  49. wawansri says:

    kirain mau mancing kok nulis cacing… :_:

  50. TuSuda says:

    Semua mahluk yang diciptakan-NYA, sangat berarti bagi interaksi kelangsungan hidup mahluk lainnya, yang saling membutuhkan…

  51. Cahya says:

    Saya suka bukunya Si Cacing itu, tapi sudah diberikan ke teman di Ausie sana :)

  52. asop says:

    Wah, saya belum baca bukunya. :_:

Leave a Reply

:D :_: y_ |_| ~_~ more »